Tampilkan postingan dengan label Singgah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Singgah. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Januari 2015

Introvert HR

Introvert HR. Tiba-tiba saja saya melabeli diri saya dengan istilah itu. Kenapa gerangan? Karena yang ada dalam bayangan saya, seorang HR (human resource) itu kudu lincah, loncat sana, loncat sini, observasi karyawan, menjalin hubungan interpersonal dengan banyak manusia dalam suatu perusahaan, yaah begitulah. Dilihat dari kualifikasinya yang biasa dicantumkan di job-advertise saja.. rasanya.. aduuh, bukan gue banget. HRD? Iiih, ngapain sih kerjaannya. Itu saya ketika menempuh kuliah S1 Psikologi di Unesa.

Fresh graduated. No experience. Lalu tiba-tiba nyemplung di dunia ke-HR-an adalah sesuatu yang membuat saya frustasi (mungkin). Di sebuah lembaga yang sedang develop, mencoba membangun identitas diri, mencoba melebarkan sayap ke kancah dunia, ... oh Rabbi, kuatkan hamba-Mu.

Oke, baiklah. Ini memang sedikit banyak melelahkan. Namun demikian, terimakasih Allah.. sudah dipertemukan dengan orang-orang yang luar biasa di sini, sudah diajarkan ilmu yang insyaAllah bermanfaat. Terimakasih.. sudah mengajariku untuk menjadi lebih kuat dengan cara-Mu.



#LMI semoga selalu diberkahi


Minggu, 07 Desember 2014

Rinai

Rabu, 3 Desember 2014 kemarin adalah hari ke-9 saya bekerja di sebuah lembaga zakat di Surabaya. Sehari sebelumnya saya terus saja memikirkan "apa ya yang harus saya kerjakan di kantor besok?". Karena manajer saya yang super baik & super sabar itu disibukkan oleh persiapan acara musyawarah kerja dan pendaftaran LAZ kami menjadi LAZNAS, saya jadi merasa sedikit terabaikan (uhuk..uhuk). Meaning, saya merasa belum tuntas di-briefing tentang pekerjaan saya. Maka bingunglah saya, rasanya ingin kabur saja dari kantor. Hehe. Sehabis sholat saya hanya berdo'a,"ya Allah gembirakanlah hatiku hari ini dan buatlah mudah urusanku hari ini." Begitulah tempat pelarian saya kalau sedang tidak enak hati. Mengadu pada Maha pemilik hati.

Dan siapakah yang lebih mengerti hatimu kecuali Allah? Pagi itu saya bergegas ke gedung sebelah untuk ikut Morning Motivation yang biasa dilaksanakan setiap pagi di lembaga tempat saya bekerja. Tiba-tiba saja manajer saya yang superbaik itu memanggil saya,"mbak Bekti bisa ikut ke Pacet buat survey tempat acara musker (musyawarah kerja) nanti?". "Ooh, kapan pak?" (pura-pura tanya, padahal udah tahu kalau hari ini). "Hari ini mbak." "Iya pak, bisa..bisa. Jam berapa pak?" (senang luar biasa). "Sekarang ini mau siap-siap mbak." (asyik). Allah Maha Mendengar.

Kami berlima di dalam mobil. Pak Nan (staf operasional andalan kantor), Pak E (manajer saya), mbak Cit (konsultan HRD kantor), saya, dan mbak Vi (alumni karyawan kantor). Sepanjang perjalanan semua orang terlibat pembicaraan tentang banyak hal, kecuali saya yang cuma mendengarkan, senyam-senyum dan ikut tertawa saja. Aslinya mah saya nggak ngerti mereka bicara soal apa, hehe. Sampai pada persoalan kantor yang kabarnya berencana mengadakan event dan membuka cabang di Hongkong. Manajer saya meminta Mbak Cit untuk ikut sebagai konselor bagi TKI di Hongkong yang jumlahnya kurang lebih 150.000 orang dan bla...bla...bla... Mbak Vi, sang alumni kantor, spontan mencak-mencak antusias. "Aku ikut. Aku ikut. Meskipun nggak dibayarin sama kantor, aku berangkat sendiri juga nggak papa kok." Loyal banget deh mbak satu ini. Lalu dia meneruskan,"Nanti di sana aku jadi kayak Rinai di novelnya Mbak Shinta Yudisia juga nggak papa. Kalau dalam novelnya kan, Rinai itu bukan siapa-siapa dan nggak terlibat dalam hal apapun.Tapi dia selalu ada dalam cerita. Aku jadi kayak gitu nggak papa deh."

Rinai. Aku juga mau jadi Rinai. Bahkan, sepertinya sayalah Rinai di dalam mobil itu.




Sabtu, 25 Oktober 2014

Be Kind



Jika masih dilanda bimbang beserta tanya,”apa yang bisa kulakukan di jalan ini?”. Maka, menjadi baiklah saudaraku. Menjadi baik bagi diri sendiri, keluarga, sahabat, dan tentu saja, pada kawan seperjuangan di jalan ini. Jika sudah ada banyak lilin yang menyala, maka kau tidak seharusnya menjadi redup. Melainkan menyalalah bersamanya. Dengan begitu, cahayanya akan semakin berpendar lebih terang. Jika jalan ini tampak terang, maka orang tidak akan takut untuk melewatinya bukan? Namun jika Ia membawamu pada tempat yang belum ada banyak cahaya di sana. Berbahagialah, dan jangan pernah meredup.



Found this written somewhere in my documents.

Kamis, 18 September 2014

Lie is Pain

Apa yang menyenangkan dari sebuah kebohongan? Meskipun itu diperbolehkan oleh agama dalam kondisi tertentu, seperti kamu harus mengarang cerita untuk menyatukan dua saudaramu yang sedang berselisih. Apa yang menyenangkan? Meskipun itu demi kebaikan, tetap saja akan ada rasa tidak nyaman yang mengganjal. Seluruh tubuh kita tahu yang sebenarnya, tetapi lidah kita mengatakan hal yang berbeda. Apakah saya pernah berbohong? Ya, saya pernah. Rasanya seperti seluruh tubuh kita, khususnya hati, sedang memberontak di dalam. Sama seperti mahasiswa idealis yang berorasi di depan gedung DPR. Eh, nggak nyambung.

Saya menulis ini karena teringat wawancara saya di sebuah instansi, tempat saya mengajukan lamaran kerja. Saya mengantarkan surat lamaran ke alamat yang dituju (dengan berputar-putar dulu di jalanan Surabaya) pagi hari. MasyaAllah, sore harinya langsung diminta datang lagi untuk interview. Bingunglah saya. Saya tidak tahu harus mempersiapkan apa. Bisa dibilang, ini adalah wawancara kerja sungguhan yang pertama. I mean, it was my first interview to apply a full time job. Nervous, of course. But I tried to keep calm, so I could explain clearly.

Apapun pertanyaannya, saya jawab apa adanya sesuai dengan diri saya sebenarnya. Supaya tidak ada kesalahpahaman saat saya (mungkin) bekerja di tempat itu. Saya bilang, I'm a fresh graduate. No job experiences. Kalau dalam istilah psikologi, bisa saja kita melakukan faking dengan melebih-lebihkan kemampuan kita dari yang sebenarnya. Tetapi untuk apa? Berbohong itu tidak menyenangkan. Lie makes you feel unpleasant. Lie is pain.

Jadilah diri sendiri. Apapun yang ada dalam dirimu, syukurilah, belajar lebih banyak dan terus menjadi lebih baik. Salam super!

Rabu, 17 September 2014

A Few Days Journey with A Friend

Somebody said,"If you want to know someone better, then make a journey with her/him."

Journey. It's kind a title of the film, isn't it? But this, my story, is not that exaggerate. Since I moved back to that house again, I should willingly across the strait many times. Ujung Kamal-Perak. Perak-Ujung Kamal. I went to Surabaya to enter the job applications in some places with a friend. She's really good friend. Really kind. Though some other friends don't like her a bit. She doesn't take it too much. What's the point telling about yourself to people who don't like you? Maybe she thinks so. Whatever it was, this journey really required full patience. And I needed more patience when she said,"be patient, okey".

First destination, we went to Islamic Hospital of Surabaya aka RSI to apply a job. We both applied the staff of HRD position. It's so funny, when we entered the room of human resource management, I found that all seat was full. Then, where the position we were looking for it to be? When we walked out of the room, I was silent and still considering that something must be wrong. A few second later she spoke up,"all seat are full, don't you see? so where's my place to be?". "I don't know. You told me and brought me here." Then we laughed out loud.

Second destination, we went to another hospital which my friend said that they already opened a recruitment. I said myself,"why not? I try". On the way to go there ... kami melihat nama rumah sakit itu dengan sangat jelas dari jauh. Okay, something wrong again. The name was different with we wrote on the application letter before. Syalala. Nama rumah sakitnya terbalik. Selanjutnya kami pontang-panting mencari tempat print. Sesuatu.

The next day;
I applied a job again. Selanjutnya kami ke gedung wanita, melihat jobfair dari disnaker. I was not impressed with the jobs offered. Then, we looked for a nice place to have lunch. Tapi buat makan siang saja kenapa harus ke kampus orang juga? I was a little mind to that idea. My friend's idea. And I'd rather mind to the reality that why it is so hard to refuse something I don't like too much. I'm still questioning myself.

Lunch. Pray. Done. We had to go. "Eh kunci motorku dimana ya be?". Tralala. Kami bolak-balik dari tempat parkir-tempat wudhu-tempat sholat. Nothing. Akhirnya kami mengadu ke penjaga parkir bla..bla..bla. "Aku kok lupaan terus ya. Dua kali stnk hilang. Bpkb hampir hilang. Ini kunci hilang. Jangan-jangan aku alzheimer, be." Meskipun kita mahasiswa psikologi, bukan berarti kita bisa menghubungkan segalanya yang tidak beres dengan gangguan psikologis, cinta. Aku membatin saja. I laughed,"Nggak lah. Lebih hati-hati lagi aja."



Lesson: bahasa inggrisku payah sekali.

Sabtu, 06 September 2014

I Thought

Kupikir, setelah masa karantina yang panjang itu, aku sudah belajar banyak dan menjadi lebih kuat.
Kupikir, sekian lama tidak bertemu dengan apa yang selama ini melemahkanku, aku menjadi kuat.
Kupikir, aku akan semakin jarang bertemu mendung setelah berusaha menemukan pelangi.

Nyatanya tidak,
Aku masih belum apa-apa, Tuhan. Dan memang bukan apa-apa, jika tanpa rahim-Mu. Jelas sudah, aku tidak bisa apa-apa tanpa daya dan izin-Mu.
Aku yang selalu lebih lambat mengerti. Hingga belum sempat kumengerti, Engkau hadirkan pelajaran baru untukku. Dan Engkau Maha Mengetahui, Ya 'Alim.

Waktu belajar tidak akan selesai sampai ke liang kubur, be. Dan kau hidup di negara tropis. Jadi terang saja kau akan berjumpa dengan mendung, bahkan hujan setiap tahunnya. 
Satu lagi, kau punya Allah. Apa yang membuatmu takut? (seharusnya tidak ada).

Ah, kupikir.. 
I thought..

Rabu, 20 Agustus 2014

Love you, Lolly

Setahun lalu, pulang-pulang dari Surabaya Mbak Irma menggendong seekor anak kucing abu-abu kecoklatan ke rumah. Sepertinya peranakan kucing Persia dengan kucing lokal. Lolly. Kenapa juga mbak Irma memberi nama itu? Kalau dilafalkan kedengarannya ambigu. Lolly..., Rully... *ugh

But I love you, Lolly. Kamu adalah entertainer sejati di keluarga Juwari. Orang serumah selalu sayang dan memanggil-manggil namamu kalau kesepian & nggak ada kerjaan. Lolly selalu bisa tidur di sudut mana saja yang dia suka.



*numpang di Haqqiya. Rehat sejenak dari detik-detik revisi yang menegangkan.

Selasa, 12 Agustus 2014

Missed

Dalam satu bulan, tiga saudaraku menikah di Syawal yang penuh berkah. Satu, saudari sekandung sendiri, kakakku yang paling cantik (dia pasti seneng banget kalau baca ini). Dua, kakak sepupuku yang paling nyebelin, Pebri, bungsunya Pakpoh Juwari. Tiga, kakak sepupu nan jauh di Magetan, Mbak Naning, sepupu dari bapak. Dan tiga-tiganya aku tidak bisa hadir di acara akad nikahnya. *sedih

Akad nikahnya Mbak Hery berlangsung tanggal 7 Agustus'14 kemarin. Bersamaan dengan sidang skripsiku (oh my...). Sedih banget rasanya. Apalagi ternyata sidangnya diundur besoknya, tanggal 8 (salahku sih, miscommunication). Lalu, akad nikahnya Mas Pebri di Bojonegoro tanggal 11 Agustus kemarin. Rombongan Mas Pebri berangkat minggu malam, karena jadwal akadnya senin pagi. Dan aku sudah dijadwal ikut rombongan senin pagi. Nggak bisa ikut deh. Kalau Mbak Naning ...., aku lupa tepatnya tanggal berapa. Tapi insyaAllah Syawal ini juga. Yang ini jelas nggak bisa ikut, karena aku sudah kembali ke Pulau Garam dan nggak bisa balik ke Magetan sebelum Yudisium tercapai.

I missed those meaningful days effortlessly.
Kebanyakan orang tidak tahu betapa sakralnya prosesi akad nikah itu. Sedang bagi mereka, prosesi resepsilah yang lebih menarik dan lebih penting agaknya. Akad nikah merupakan salah satu perjanjian yang kokoh (mitsaqan ghaliza) yang ditulis di Al-Qur'an, selain perjanjian Allah dengan nabi-nabi Ulul Azmi dan perjanjian Allah dengan bani Isra'il. Akan ada banyak malaikat yang menyaksikan dan mendo'akan. Itulah ruginya tidak bisa menghadiri prosesi akad nikah. Nggak bisa berdo'a bareng-bareng sama malaikat.

Barokallah, mbak-mbak & masbro.

Yellowroom. Di sela waktu revisi.

Senin, 04 Agustus 2014

Cerita Ramadhan

Ramadhan sudah dilalui kemarin. Tidak terasa sudah memasuki Syawal 1435 H. Barokallah.
Ah, sudah banyak yang dilalui ternyata. Tapi yaah, perjuangan belum berakhir. Journey to Yudisium is still waiting to face. Ini Syawal, yuk rehat sejenak dengan cerita sillahturahim idul fitri lalu.

Ramadhan tahun ini pertama kalinya menjadi bagian dari amil zakat. Subhanallah banyak hikmahnya. Pertama kalinya diizinkan bawa motor sendiri ke Surabaya, hehehe. Pertama kalinya ke rumah dosen. Pertama kalinya menjenguk dosen yang sedang sakit. Pertama kalinya melihat orang-orang yang lagi kerja di kantor (please deh). Pertama kalinya menghabiskan sebagian besar Ramadhan di luar rumah. Ramadhan jadi bermanfaat & produktif. MasyaAllah, senang rasanya.

Ramadhan tahun ini, juga pertama kalinya mudik H-2. Sesuatu sekali.
Ramadhan tahun ini, adalah momen yang membahagiakan bagi saudariku tersayang Hery Pujiani. Setelah sekian lama penantian, akhirnya dipertemukan juga dengan seseorang yang sering disebut dalam do'anya. Sosok sholih yang bisa membawanya ke surga, katanya. Alhamdulillah, turut bahagia pula hati ini. Terus tiba-tiba muncul tanya,"Ruly kapan nyusul?". Secepatnya... (?).

Ramadhan tahun ini, seperti biasa, banyak rumah yang dikunjungi untuk sillahturahim. Banyak saudara-saudara yang sudah menikah, punya anak. Banyak sepupu-sepupu yang dulu masih imut-imut, eh tau tau udah gedhe. Kayak adik sendiri, si Idho yang naik kelas 1 SMP, eh sekarang udah setinggi mbaknya aja. Sudah suratan saya jadi yang paling kecil di rumah. Dan herannya orang-orang seperti tak kenal bosan mengungkit-ungkitnya. "Lhoh Ruly kok sek cilik ae nduk." *mesem-mesem (tersenyum pahit, hhehe).

Tidak ada yang paling membahagiakan dibanding melihat saudara yang kita cintai mendapat kebahagiaannya. #apasiih


Kaki gunung Bancak. Magetan, 4 Agustus 2014.

Sabtu, 05 April 2014

Sepotong Hati



Tidak ada keilmuwan manapun yang mampu menjabarkan secara rinci, faktual dan holistik mengenai manusia. Psikologi sekali pun, ilmu buatan manusia yang katanya mengkaji tentang perilaku manusia itu, tak sanggup mengungkap secara menyeluruh tentang makhluk yang paling mulia menurut Tuhan. Apatah lagi ilmu lain, seperti sosiologi, antropologi, dan ilmu lain yang menggadang-gadang manusia sebagai sumber kajiannya. Manusia terlalu rumit karena kitalah, para manusia itu, yang tak memiliki ilmu seluas dan sebesar milik-Nya, Tuhannya manusia.

Ah. Rasanya prolog di atas terlalu berlebihan. Seorang manusia saja sudah begitu rumitnya. Apalagi antarmanusia, bukanlah perkara yang remeh temeh. Bahkan Islam telah mengatur hubungan antarmanusia tersebut dalam suatu hukum khusus, yaitu hablum minannas. Di samping itu, banyak hadits yang meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pun telah menekankan betapa urgensinya berhubungan baik dengan manusia dalam sabdanya. Seperti hubungan kita dengan orangtua, kerabat, sahabat, tetangga, bahkan dengan orang yang tidak beriman sekalipun. Karena pada hakikatnya, berhubungan dengan manusia bukan semata-mata berhadapan dengan sebuah raga yang sama-sama terbuat dari tanah, melainkan berhadapan dengan hati. Tidak ada yang bisa memahami serta mengetahui isi hati secara utuh bahkan si pemilik hati itu sendiri, kecuali Dia. Maka memahami manusia, engkau harus memahami hatinya. Meski ini bukanlah perkara yang mudah.

Hati-hati kita, sama-sama tidak tahu apa yang sedang terjadi di antara keduanya, ketiganya atau kesekiannya. Kita hanya bisa saling menduga dan berprasangka. Orang bilang,”katakanlah isi hatimu”. Namun apa yang keluar dari lisan tak jarang pula yang luput dari hati. Ketika kita hendak mengatakan begini, tiba-tiba saja kita mengatakan begitu. Aneh ya.

Hatiku tersembunyi, begitu juga hatimu, dan hati-hati para manusia itu. Jikalau ada yang tak berkenan yang keluar dari lisanku, maka kupinta hatimu untuk melihat lebih dekat pada hatiku. Bahwa hatiku bukanlah seperti hati Muhammad SAW yang telah disucikan oleh Jibril. Hatiku tentu banyak noktah dan bekas luka. Mungkin, demikian juga dengan hatimu. Namun, ingatkanlah aku dengan cinta yang memenuhi hatimu di bagian yang lain. Karena aku adalah sepotong hati, dan kau adalah sepotong hati.

Begitu rumit dan melelahkannya mengurusi hati, kita tak akan pernah mampu mengendalikannya bila tanpa campur tangan-Nya. Karena pemilik mutlak dari hati-hati kita adalah Allah Subhanahu wa ta’ala. Dia dapat dengan mudah membolak-balikkan hati manusia dengan kehendak-Nya. Bahkan Rasulullah pun, yang telah dijaminkan surga baginya dan terjaga akhlaknya (ma’shum), senantiasa berdo’a kepada Allah SWT untuk diteguhkan hatinya. Lalu bagaimanakah dengan kita, yang tak memiliki jaminan apapun dan yang tak ma’shum? Sudahkah kita memohon pada-Nya untuk diteguhkan hatinya dalam jalan ini?


Allahumma mushorrifal quluub shorrif quluubana ‘ala tho’atik.
Yaa muqollibal quluub tsabbit quluubanaa ‘alaa diinik.

 Ya Allah yang memalingkan hati manusia, palingkanlah hati kami di atas ketaatan pada-Mu.
Wahai yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu.

Semoga hati-hati kita selalu diteguhkan dalam menebar kebaikan :)


Sabtu, 15 Maret 2014

Volume Air Mata

Beberapa larut malam yang kulewati setiap pekan, kadang ada bening menggenang dengan volume yang lebih besar dari cukup untuk memenuhi kantung mataku yang kehitaman. Ketika ia jatuh, bagiku cukup untuk mewakilkan beribu rasa yang tak sampai dengan cara lain. Aku terlalu pemalu, maka sedapat mungkin untuk tidak membuat gaduh di larut malam yang mulai senyap. Aku akan diam tak bergerak beberapa saat, agar mata air itu menemukan jejaknya sendiri di pipiku. Aku menangis diam-diam. Ya, menangis. Tanpa harus bersuara, tanpa sesenggukan keras-keras. Menangis, bagiku, adalah sifat manusiawi yang paling indah yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Ketika kau ingin menyatakan perasaanmu, apa saja, tapi lisan serasa tak sanggup mengungkapkannya, maka menangis saja. Sedih, bahagia, bingung, marah, syukur. Cukup dengan beberapa tetes saja, atau terserah dirimu. Bergantung seberapa besar kesedihan, kebahagiaan, kebingungan, kemarahan dan rasa syukur yang kau rasa. Hanya kau yang bisa menakar volume air matamu untuk menggantikan lisan yang tertahan dan rasa yang mengendap dalam.

Jumat, 28 Februari 2014

Titip Rindu Buat Ayah

Beberapa pekan yang lalu, saya meng-copy file-file saya yang tertinggal di laptop Bayu yang setahun lamanya saya pinjam. Dan dengan amat menyesal, saya kembalikan lagi dalam keadaan yang mengenaskan. Semoga Allah menggantinya dengan yang lebih baik. Maaf sekali, saya tidak punya apa-apa. Hanya Allah yang kupunya. #drama

Ada folder BE CERITA di situ. (#nyengir) Itu adalah folder berisi kumpulan bualan-bualan saya beserta polusi rasa yang mencemari hati. Kemudian saya menemukan kata-kata ini,

Ayah, pertemuanku denganmu telah sampai batasnya belasan tahun yang lalu. Namun aku bahagia dalam pemahaman yang tidak aku mengerti. Aku merindukanmu. Lebih dari yang engkau tahu saat terakhir kali engkau melihatku. Saat usiaku belum genap sepuluh tahun. Ayah, dari tidurmu mungkin engkau bisa melihat. Aku tumbuh besar meski dalam ukuran yang tak ideal. Ayah, tahukah? Usiaku duapuluh tahun. Dan satu tahun penuh aku telah melewati masa usia itu. Kemudian aku tak mau menghitungnya lagi. Sungguh Ayah, aku ingin menggugatmu. Terhadap masa-masa yang kulewati tanpamu. Tanpa peganganmu, tanpa isyarat darimu. Aku merindukannya. Perasaan kekanakan itu sekejap saja. Lalu sekejap saja, bahkan di usia duapuluh tahun. Selebihnya aku takut. Karena sesungguhnya akulah yang tergugat. Atas lantun-lantun do’a yang kukirim padamu. Sudahkah aku melakukannya... Atas janji-janji tersembunyi yang tak pernah kuucap padamu. Sudahkah aku menunaikannya...
Membacanya jadi ingin mendengar lagu "titip rindu buat Ayah"-nya Ebiet G. Ade.
Bapak, semoga Allah mengampuni dosa-dosamu dan mengasihimu di sana*

Haqqiyya, Kamar 5.

Sabtu, 04 Januari 2014

Kata-kata itu misteri..

Tahukah kamu, kata-kata itu misteri. Setidaknya bagiku. Sudah tentu kamu tahu, seperti yang kubilang bertahun-tahun lalu dan klise, bahwa aku tak pandai bicara. Tidak sepandai dirimu. Tidak sepandai mereka. Tetapi nilai Bahasa Indonesiaku, dan mungkin untuk bahasa yang lainnya juga, tidak pernah memilukan. Namun masih saja, … Kata-kata itu misteri.

“Ah, aku ingin menulis saja.” Itu kataku.
“Kenapa? Apa itu lebih mudah bagimu?”
“Menurutku. Bagaimana denganmu? Dari mana kamu dapat semua kata-kata itu dengan mudah?” Aku berdo’a semoga kau tidak menangkap rasa penasaran di wajahku. Aku tersenyum.
“Mudah saja. Katakan saja apa yang ada di sini.” Kau menunjuk dadamu sendiri.
“Semuanya?” Semoga kau tidak peduli dengan mimik wajahku.
“Semuanya.” Kau tampak berseri mengatakannya.
“Itu melelahkan. Dan mungkin, aku akan kehilangan kata-kata di pertengahan. Tiba-tiba tidak bisa bicara..” Benar saja. Suaraku menghilang, berhembus bersama angin malam yang mulai datang.
“Tenang saja. Aku akan membuatmu selalu bicara. Memaksamu berkata-kata sampai angin malam tak tertarik mencuri suaramu.” Kau setengah tertawa. Dan aku tidak tahu lagi bagaimana wajahku saat ini.
“Aku anggap itu sebuah janji.”
“Janji.”