Jumat, 28 Februari 2014

Titip Rindu Buat Ayah

Beberapa pekan yang lalu, saya meng-copy file-file saya yang tertinggal di laptop Bayu yang setahun lamanya saya pinjam. Dan dengan amat menyesal, saya kembalikan lagi dalam keadaan yang mengenaskan. Semoga Allah menggantinya dengan yang lebih baik. Maaf sekali, saya tidak punya apa-apa. Hanya Allah yang kupunya. #drama

Ada folder BE CERITA di situ. (#nyengir) Itu adalah folder berisi kumpulan bualan-bualan saya beserta polusi rasa yang mencemari hati. Kemudian saya menemukan kata-kata ini,

Ayah, pertemuanku denganmu telah sampai batasnya belasan tahun yang lalu. Namun aku bahagia dalam pemahaman yang tidak aku mengerti. Aku merindukanmu. Lebih dari yang engkau tahu saat terakhir kali engkau melihatku. Saat usiaku belum genap sepuluh tahun. Ayah, dari tidurmu mungkin engkau bisa melihat. Aku tumbuh besar meski dalam ukuran yang tak ideal. Ayah, tahukah? Usiaku duapuluh tahun. Dan satu tahun penuh aku telah melewati masa usia itu. Kemudian aku tak mau menghitungnya lagi. Sungguh Ayah, aku ingin menggugatmu. Terhadap masa-masa yang kulewati tanpamu. Tanpa peganganmu, tanpa isyarat darimu. Aku merindukannya. Perasaan kekanakan itu sekejap saja. Lalu sekejap saja, bahkan di usia duapuluh tahun. Selebihnya aku takut. Karena sesungguhnya akulah yang tergugat. Atas lantun-lantun do’a yang kukirim padamu. Sudahkah aku melakukannya... Atas janji-janji tersembunyi yang tak pernah kuucap padamu. Sudahkah aku menunaikannya...
Membacanya jadi ingin mendengar lagu "titip rindu buat Ayah"-nya Ebiet G. Ade.
Bapak, semoga Allah mengampuni dosa-dosamu dan mengasihimu di sana*

Haqqiyya, Kamar 5.

Rabu, 26 Februari 2014

26 Februari yang ke 22


Age is just number. Young is forever. Usia hanyalah perihal angka, namun jiwa muda tetap selamanya.
        
Ya Allah, Alhamdulillah. Segala puji bagi-Mu atas segala kasih dan sayang-Mu untuk seorang hamba yang terlalu sering lalai ini. Terimakasih atas segala cinta yang Engkau berikan melalui orang-orang terdekat yang menyayangiku. Aku pun menyayangi mereka. Dan Engkau, lebih besar cinta-Nya.

Untuk 26 Februari yang ke 22, teguhkanlah hamba berada di jalan-Mu, Ya Rahim. Rengkuh aku meski harus tertatih dan amat perlahan dalam menjemput ridho-Mu. Langkah kakiku tak seperti miliki mereka yang lebih dulu berjalan di depan. Namun selalu ada jejak yang bisa kuikuti, yang tak bisa membuatku tersesat. Jejak manusia paling mulia di sisi-Mu, Muhammad.

Untuk 26 Februari yang ke 22, selalu ada yang istimewa pada tanggal ini yang Engkau titipkan lewat tangan-tangan penuh cinta.
Untuk 26 Februari yang ke 22, selalu ada do’a yang kukirimkan pada-Mu.
         
Barakallahu fii ‘umrik. Semoga ketakutan itu segera pergi, karena selalu ada Dia untukmu.

Minggu, 23 Februari 2014

That feeling comes to me (again)

It’s not a delightful feeling. Neither bad feeling. I mean not too bad. Never makes me desperately. It just makes me verily uncomfortable. I felt it once when I had been in Madura. Such a sad, lonely, and empty feeling. But I don’t know exactly. It comes up and burst my chest. Frequently it comes to me at nights. And last night that feeling comes to me. Again. It is like you really want to cry, but you can’t. Like you want to tell someone about your feeling, but no word you can say. Strange. I don’t like it.
Well, stay positive and keep calm.

Haqqiyya. Room 5, Zainab binti Khuzaimah.

Sabtu, 22 Februari 2014

I Love This Part

I really love this part. Ketika suara alarm dari ponsel kami saling bersahut, jengah, karena pemiliknya tak kunjung membuka mata juga. Mereka mendengar (sebagian besar), namun menolak kenyataan bahwa hari sudah berganti sedari tadi. Sebagian pura-pura tidak mendengar dan acuh, sehingga setiap beberapa menit kemudian benda itu bersahut kembali. Sedang sebagian yang lain tak tahan dengan suara pilihan mereka sendiri itu, lalu meraba-raba permukaan kasur mencari cara untuk mematikan sumber suara. Satu dua pintu ada yang terbuka, lalu keluarlah satu dua penghuni dari rumah berkamar 10 itu menghampiri pintu kamar mandi. Inilah orang-orang yang mengawali sebelum adzan subuh dikumandangkan. Dari pintu-pintu yang masih tertutup, ada yang berharap dan menunggu suara ketukan pintu dari luar, meminta manja untuk dibangunkan. Kami harus saling membangunkan. (Mungkin) Ada juga yang samar-samar dalam mimpi berharap semoga pintuku terlewati. Ada yang bersorak dalam hati, karena memiliki waktu lebih panjang untuk menengok akhir dari mimpinya. Mereka adalah para hawa yang sedang kedatangan tamu setiap bulannya.

I really love this part. Ketika injury time sudah berakhir, dan adzan subuh harus dikumandangkan. Kami, para hawa penghuni rumah 10 kamar, setidaknya harus mengantri di dekat pintu-pintu kamar mandi, kalau tidak ingin tertinggal rahmat-Nya di awal waktu dan pahala berlipat-lipat. Suara alarm ponsel-terkadang-masih ada saja yang meraung ‘siapa pula yang memintaku berbunyi?’. Orang-orang tak terlalu peduli. Kami hanya ingin suara air dan menyentuh air. Tidak ingin tertinggal menjemput pahala yang lebih baik dari dunia dan seisinya. Untuk-Nya, kami (harus) bersegera. Usai iqomah, musholla kecil kami jadi berjejal.

I really love this part. Ketika kening kami bersama-sama mengecup lantai, lalu gerakan-gerakan lain yang dilakukan bersama. Do’a-do’a pagi dibisikkan lirih-lirih. Ayat-ayat-Nya dilantunkan bergiliran. Semoga Allah memudahkan urusan kita semua. Semoga Allah menghapuskan luka-luka yang pernah berdenyut dalam hati yang tak tampak. Semoga masing-masing saling mendo’a dalam hati yang tak terdengar.

I really love this part. Ketika aroma masakan mulai menguar, menggoda perut kelaparan. Meski terkadang, aromanya terlalu mencekam dan membuat seluruh penghuni rumah terbatuk-batuk senang sampai berair mata. Suara air mengalir masih riuh menghantam air yang menggenang di dalam bak mandi. Lalu disusul suara para penghuni yang mengambil nomor antrian mandi. Ketika menu pagi dihidangkan, seolah-olah mengalihkan dunia seluruh penghuni rumah, tiba-tiba saja dapur kecil kami menjadi ramai. Orang-orang mengantri teratur mengambil piring, mengambil sendok (sebagian ada yang memilih mengikuti sunnah Rasulullah-pakai tangan, atau karena tidak ada pilihan lain-sendok kami terbatas-), mengambil nasi, mengambil menu pagi dan memilih posisi duduk yang nyaman. Lalu beralihlah keriuhan di dapur berpindah ke ruang tengah. Orang-orang duduk rapi saling berhadapan dengan jarak dua langkah, saling menyangga piring dengan tangannya, dan mulailah ritual pagi kami. Bagian ini adalah yang paling aku suka. Segala puji bagi Allah yang telah mempersatukan hati kami melalui menu pagi yang hangat.

Haqqiyya. When the dawn is breaking and breakfast is dished out.

Rabu, 05 Februari 2014

Happy February

Time is the most mysterious thing in this world. It goes by so fast like no ending. Time is like a fairy tale. It is between two options, real or not real. Like when I wrote this letters, I felt I was writing a novel fiction. Real or not real, this is so strange when I use English in my writing. I’m not good enough in English. Like I’m not good enough at saying something. But, someday I want to speak English with people. Whoever they are, exactly they speak English.

Well, February has come. It delivered a greeting to me soundly, and no one can hear. I’m the only one who is excited by the February’s coming. Matter fact, that’s not true. On the other hand, the whole world is happy for welcoming February. “February is month of love” they say. No, I don’t want to talk about love. Love is something out of my radar. *laugh

By now, I’ll be counting on the days. I told myself not to do that. “However, time must go on and the day you’re afraid of will come anyway. Counting is wasting, baby. Just think of everything’s gonna be fine. Cause Allah is always be there. For you. For every living things on the earth.”

Time is mysterious and it will always be. And about February, just reply its greeting to you. Say that you will be kind to everyone by now, grateful for His presents and love your family, relatives and friends.

Happy February, and may the odds be ever in your favor.