Sabtu, 05 April 2014

Sepotong Hati



Tidak ada keilmuwan manapun yang mampu menjabarkan secara rinci, faktual dan holistik mengenai manusia. Psikologi sekali pun, ilmu buatan manusia yang katanya mengkaji tentang perilaku manusia itu, tak sanggup mengungkap secara menyeluruh tentang makhluk yang paling mulia menurut Tuhan. Apatah lagi ilmu lain, seperti sosiologi, antropologi, dan ilmu lain yang menggadang-gadang manusia sebagai sumber kajiannya. Manusia terlalu rumit karena kitalah, para manusia itu, yang tak memiliki ilmu seluas dan sebesar milik-Nya, Tuhannya manusia.

Ah. Rasanya prolog di atas terlalu berlebihan. Seorang manusia saja sudah begitu rumitnya. Apalagi antarmanusia, bukanlah perkara yang remeh temeh. Bahkan Islam telah mengatur hubungan antarmanusia tersebut dalam suatu hukum khusus, yaitu hablum minannas. Di samping itu, banyak hadits yang meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pun telah menekankan betapa urgensinya berhubungan baik dengan manusia dalam sabdanya. Seperti hubungan kita dengan orangtua, kerabat, sahabat, tetangga, bahkan dengan orang yang tidak beriman sekalipun. Karena pada hakikatnya, berhubungan dengan manusia bukan semata-mata berhadapan dengan sebuah raga yang sama-sama terbuat dari tanah, melainkan berhadapan dengan hati. Tidak ada yang bisa memahami serta mengetahui isi hati secara utuh bahkan si pemilik hati itu sendiri, kecuali Dia. Maka memahami manusia, engkau harus memahami hatinya. Meski ini bukanlah perkara yang mudah.

Hati-hati kita, sama-sama tidak tahu apa yang sedang terjadi di antara keduanya, ketiganya atau kesekiannya. Kita hanya bisa saling menduga dan berprasangka. Orang bilang,”katakanlah isi hatimu”. Namun apa yang keluar dari lisan tak jarang pula yang luput dari hati. Ketika kita hendak mengatakan begini, tiba-tiba saja kita mengatakan begitu. Aneh ya.

Hatiku tersembunyi, begitu juga hatimu, dan hati-hati para manusia itu. Jikalau ada yang tak berkenan yang keluar dari lisanku, maka kupinta hatimu untuk melihat lebih dekat pada hatiku. Bahwa hatiku bukanlah seperti hati Muhammad SAW yang telah disucikan oleh Jibril. Hatiku tentu banyak noktah dan bekas luka. Mungkin, demikian juga dengan hatimu. Namun, ingatkanlah aku dengan cinta yang memenuhi hatimu di bagian yang lain. Karena aku adalah sepotong hati, dan kau adalah sepotong hati.

Begitu rumit dan melelahkannya mengurusi hati, kita tak akan pernah mampu mengendalikannya bila tanpa campur tangan-Nya. Karena pemilik mutlak dari hati-hati kita adalah Allah Subhanahu wa ta’ala. Dia dapat dengan mudah membolak-balikkan hati manusia dengan kehendak-Nya. Bahkan Rasulullah pun, yang telah dijaminkan surga baginya dan terjaga akhlaknya (ma’shum), senantiasa berdo’a kepada Allah SWT untuk diteguhkan hatinya. Lalu bagaimanakah dengan kita, yang tak memiliki jaminan apapun dan yang tak ma’shum? Sudahkah kita memohon pada-Nya untuk diteguhkan hatinya dalam jalan ini?


Allahumma mushorrifal quluub shorrif quluubana ‘ala tho’atik.
Yaa muqollibal quluub tsabbit quluubanaa ‘alaa diinik.

 Ya Allah yang memalingkan hati manusia, palingkanlah hati kami di atas ketaatan pada-Mu.
Wahai yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu.

Semoga hati-hati kita selalu diteguhkan dalam menebar kebaikan :)