Beberapa
larut malam yang kulewati setiap pekan, kadang ada bening menggenang dengan
volume yang lebih besar dari cukup untuk memenuhi kantung mataku yang kehitaman.
Ketika ia jatuh, bagiku cukup untuk mewakilkan beribu rasa yang tak sampai
dengan cara lain. Aku terlalu pemalu, maka sedapat mungkin untuk tidak membuat
gaduh di larut malam yang mulai senyap. Aku akan diam tak bergerak beberapa
saat, agar mata air itu menemukan jejaknya sendiri di pipiku. Aku menangis
diam-diam. Ya, menangis. Tanpa harus bersuara, tanpa sesenggukan keras-keras. Menangis,
bagiku, adalah sifat manusiawi yang paling indah yang dianugerahkan Tuhan
kepada manusia. Ketika kau ingin menyatakan perasaanmu, apa saja, tapi lisan
serasa tak sanggup mengungkapkannya, maka menangis saja. Sedih, bahagia,
bingung, marah, syukur. Cukup dengan beberapa tetes saja, atau terserah dirimu.
Bergantung seberapa besar kesedihan, kebahagiaan, kebingungan, kemarahan dan
rasa syukur yang kau rasa. Hanya kau yang bisa menakar volume air matamu untuk
menggantikan lisan yang tertahan dan rasa yang mengendap dalam.