Sabtu, 15 Maret 2014

Volume Air Mata

Beberapa larut malam yang kulewati setiap pekan, kadang ada bening menggenang dengan volume yang lebih besar dari cukup untuk memenuhi kantung mataku yang kehitaman. Ketika ia jatuh, bagiku cukup untuk mewakilkan beribu rasa yang tak sampai dengan cara lain. Aku terlalu pemalu, maka sedapat mungkin untuk tidak membuat gaduh di larut malam yang mulai senyap. Aku akan diam tak bergerak beberapa saat, agar mata air itu menemukan jejaknya sendiri di pipiku. Aku menangis diam-diam. Ya, menangis. Tanpa harus bersuara, tanpa sesenggukan keras-keras. Menangis, bagiku, adalah sifat manusiawi yang paling indah yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Ketika kau ingin menyatakan perasaanmu, apa saja, tapi lisan serasa tak sanggup mengungkapkannya, maka menangis saja. Sedih, bahagia, bingung, marah, syukur. Cukup dengan beberapa tetes saja, atau terserah dirimu. Bergantung seberapa besar kesedihan, kebahagiaan, kebingungan, kemarahan dan rasa syukur yang kau rasa. Hanya kau yang bisa menakar volume air matamu untuk menggantikan lisan yang tertahan dan rasa yang mengendap dalam.