Kau datang sebentar saja. Menguarkan harapan yang hampir saja pudar bersama cahaya Matahari di peringatan kemarau.
Kau datang sebentar saja. Terimakasih. Harapan itu masih ada.
Haqqiya, 13 Mei 2014. Tanda tangan itu tampak biasa saja. Tapi hatiku terlanjur senang dibuatnya. (ceritanya habis acc revisi proposal, hhe). Dan janganlah engkau berputus asa dari rahmat-Nya.
Selasa, 13 Mei 2014
2#Thankyou, Rain
Prejudice
I thought you had ignored me. I thought you didn't remember me. I thought you didn't care. I thought ...
Prejudice. It is so easy to have one in our mind. We can't wait any longer, we can't be patient, we're too fast to conclude. In hurry, sometimes we can't make a better conclusion. We just think of what we want to think of.
"Why she did this to me?"
"Why is she always being selfish?"
That was too fast, guys. Too hurry. Have you ever heard about positive thinking? Try it, do it. It is better than you make any bad prejudice.
Senin, 12 Mei 2014
1#Thankyou, Rain
Hujan itu masih terasa basah di hatiku. Setelah sekian lama menderu deras, perlahan ia menjelma gerimis yang tak kenal bosan memerciki dinding hatiku. Akhirnya, dadaku selalu basah karenanya. Seperti rona langit menjelang hujan, ketika hujan, atau seusai hujan. Sendu. Kelabu.
Hey, gerimis. Sampai kapan kau mau seperti ini? Apa kau tahu, aku mulai lelah menegakkan payung dengan berdiri selama ini? Sampai kapan kau mau diriku menemanimu dengan payung ditegakkan begini? Atau mungkin kau, .... Kau mau menemaniku? Sampai kapan? Sampai kemarau memberi peringatan, katamu. Dengan payung ini? Gunakan payung yang sama ketika kau ingin bertemu Matahari. Kau harus mengenalnya dengan baik. Tapi jangan terlalu dekat.
Vanilla
“Sashaa, ayo belajar menulis yuk. Kalau Sasha males gitu, Mbak Bekti
pulang aja deh.”
“Yaudah, Mbak Bekti pulang aja. Saya mau tidur. Hehehe.” Jleb!
“Mbak Bekti nggak mau ngelesin lagi lho, kalau Sasha nggak mau baca, nggak mau nulis.”
“Nanti kalau Mbak Bekti nggak ngelesi, Mbak Bekti nggak dapat uang
lho.” Jleb! Jleb! Jleb!
Sambil menyeruput teh hangat buatan Mamanya Sasha.
“Mbak Bekti kok sukanya minum yang manis-manis sih.”
“Iya. Mbak Bekti suka minum yang manis-manis, Sha.” Jawabku polos dan jujur.
“Kalo aku sukanya minum air putih mbak. Sehat.” Jawab Sasha innocent.
“Mbak Bekti itu orang Jawa atau orang Islam?”
“Mbak Bekti nggak punya rumah kan. Soalnya itu rumahnya orangtuanya
Mbak Bekti.”
“Mbak Bekti, mana ada ikan yang warnanya gini. Ininya (sirip) kuning, ininya (badan) merah, terus ininya (ekor) hijau. Nggak ada kan?”
“Mbak Bekti, ini apa sih? Harus tahu lho ya.”
“Yaudah, Mbak Bekti pulang aja. Saya mau tidur. Hehehe.” Jleb!
“Mbak Bekti nggak mau ngelesin lagi lho, kalau Sasha nggak mau baca, nggak mau nulis.”
Sambil menyeruput teh hangat buatan Mamanya Sasha.
“Iya. Mbak Bekti suka minum yang manis-manis, Sha.” Jawabku polos dan jujur.
“Kalo aku sukanya minum air putih mbak. Sehat.” Jawab Sasha innocent.
“Mbak Bekti itu orang Jawa atau orang Islam?”
“Mbak Bekti, mana ada ikan yang warnanya gini. Ininya (sirip) kuning, ininya (badan) merah, terus ininya (ekor) hijau. Nggak ada kan?”
“Mbak Bekti, ini apa sih? Harus tahu lho ya.”
Namanya
Vanilla Tasha Suwarto, 5 th. Setiap Senin-Jum’at pagi ia bermain & belajar
bersama Ustadzah Izza di kelas A-3, TK-IT At-Taqwa Surabaya. Putri bungsu dari
keluarga Suwarto ini biasa dipanggil “Sasha”. Setiap Senin, Selasa, dan Kamis,
saya datang ke rumahnya untuk menemaninya belajar membaca dan menulis. Tapi
sekarang tidak lagi. Akhir April kemarin, saya memutuskan rutinitas tiap
Senin-Selasa-Kamis itu. Alasannya sentimentil sekali. Yah soal perasaan.
Perasaan saya pada skripsi saya yang manja minta ampun. *padahal ...
Sebenarnya
ada sedikit rasa sayang meninggalkan Sasha belajar sendiri alias mengembalikan
tanggung jawab Bu Ratna kembali as her
mother. Dia itu lucu, menggemaskan, pintar dan kritis di usianya. She was my
top enternainer on my Monday, Tuesday, & Thursday. Atau mungkin benar kata
Sasha,”kalau Mbak Bekti nggak ngelesi, Mbak Bekti nggak dapet uang lho.” Saya
tidak kuat menahan tawa mendengarnya. Entah dari mana gadis kecil ini dapat
pemahaman seperti itu.
Sudah
pernah mendengar ini kan? Bahwa Allah mengajarkan kita sesuatu hal melalui
siapa saja dan apa saja. Tidak kenal usia, tidak kenal status. Bahkan melalui gadis
kecil yang masih duduk di bangku TK A (Nol kecil). Melalui pernyataan-pernyataan
lucu Sasha, seringkali saya tercenung sendiri ketika ngelesi. Meskipun lebih
banyak tawa saya yang meledak karenanya.
Hikmah
hidup itu ada dimana-mana di sekeliling kita. Jika kita peka. Jika kita mau
melapangkan hati untuk menerimanya. Terus belajar, Bebe.
30 April 2014. Goodbye Days to Sasha. Miss you :*