Apa yang menyenangkan dari sebuah kebohongan? Meskipun itu diperbolehkan oleh agama dalam kondisi tertentu, seperti kamu harus mengarang cerita untuk menyatukan dua saudaramu yang sedang berselisih. Apa yang menyenangkan? Meskipun itu demi kebaikan, tetap saja akan ada rasa tidak nyaman yang mengganjal. Seluruh tubuh kita tahu yang sebenarnya, tetapi lidah kita mengatakan hal yang berbeda. Apakah saya pernah berbohong? Ya, saya pernah. Rasanya seperti seluruh tubuh kita, khususnya hati, sedang memberontak di dalam. Sama seperti mahasiswa idealis yang berorasi di depan gedung DPR. Eh, nggak nyambung.
Saya menulis ini karena teringat wawancara saya di sebuah instansi, tempat saya mengajukan lamaran kerja. Saya mengantarkan surat lamaran ke alamat yang dituju (dengan berputar-putar dulu di jalanan Surabaya) pagi hari. MasyaAllah, sore harinya langsung diminta datang lagi untuk interview. Bingunglah saya. Saya tidak tahu harus mempersiapkan apa. Bisa dibilang, ini adalah wawancara kerja sungguhan yang pertama. I mean, it was my first interview to apply a full time job. Nervous, of course. But I tried to keep calm, so I could explain clearly.
Apapun pertanyaannya, saya jawab apa adanya sesuai dengan diri saya sebenarnya. Supaya tidak ada kesalahpahaman saat saya (mungkin) bekerja di tempat itu. Saya bilang, I'm a fresh graduate. No job experiences. Kalau dalam istilah psikologi, bisa saja kita melakukan faking dengan melebih-lebihkan kemampuan kita dari yang sebenarnya. Tetapi untuk apa? Berbohong itu tidak menyenangkan. Lie makes you feel unpleasant. Lie is pain.
Jadilah diri sendiri. Apapun yang ada dalam dirimu, syukurilah, belajar lebih banyak dan terus menjadi lebih baik. Salam super!