Tahukah kamu, kata-kata itu
misteri. Setidaknya bagiku. Sudah tentu kamu tahu, seperti yang kubilang
bertahun-tahun lalu dan klise, bahwa aku tak pandai bicara. Tidak sepandai
dirimu. Tidak sepandai mereka. Tetapi nilai Bahasa Indonesiaku, dan mungkin
untuk bahasa yang lainnya juga, tidak pernah memilukan. Namun masih saja, …
Kata-kata itu misteri.
“Ah, aku ingin menulis saja.” Itu kataku.
“Kenapa? Apa itu lebih mudah bagimu?”
“Menurutku. Bagaimana denganmu? Dari mana kamu dapat semua kata-kata
itu dengan mudah?” Aku berdo’a semoga kau tidak menangkap rasa penasaran di
wajahku. Aku tersenyum.
“Mudah saja. Katakan saja apa yang ada di sini.” Kau
menunjuk dadamu sendiri.
“Semuanya?” Semoga kau tidak peduli dengan mimik wajahku.
“Semuanya.” Kau tampak berseri mengatakannya.
“Itu melelahkan. Dan mungkin, aku akan kehilangan kata-kata
di pertengahan. Tiba-tiba tidak bisa bicara..” Benar saja. Suaraku menghilang,
berhembus bersama angin malam yang mulai datang.
“Tenang saja. Aku akan membuatmu selalu bicara. Memaksamu
berkata-kata sampai angin malam tak tertarik mencuri suaramu.” Kau setengah tertawa.
Dan aku tidak tahu lagi bagaimana wajahku saat ini.
“Aku anggap itu sebuah janji.”
“Janji.”