Minggu, 07 Desember 2014

Rinai

Rabu, 3 Desember 2014 kemarin adalah hari ke-9 saya bekerja di sebuah lembaga zakat di Surabaya. Sehari sebelumnya saya terus saja memikirkan "apa ya yang harus saya kerjakan di kantor besok?". Karena manajer saya yang super baik & super sabar itu disibukkan oleh persiapan acara musyawarah kerja dan pendaftaran LAZ kami menjadi LAZNAS, saya jadi merasa sedikit terabaikan (uhuk..uhuk). Meaning, saya merasa belum tuntas di-briefing tentang pekerjaan saya. Maka bingunglah saya, rasanya ingin kabur saja dari kantor. Hehe. Sehabis sholat saya hanya berdo'a,"ya Allah gembirakanlah hatiku hari ini dan buatlah mudah urusanku hari ini." Begitulah tempat pelarian saya kalau sedang tidak enak hati. Mengadu pada Maha pemilik hati.

Dan siapakah yang lebih mengerti hatimu kecuali Allah? Pagi itu saya bergegas ke gedung sebelah untuk ikut Morning Motivation yang biasa dilaksanakan setiap pagi di lembaga tempat saya bekerja. Tiba-tiba saja manajer saya yang superbaik itu memanggil saya,"mbak Bekti bisa ikut ke Pacet buat survey tempat acara musker (musyawarah kerja) nanti?". "Ooh, kapan pak?" (pura-pura tanya, padahal udah tahu kalau hari ini). "Hari ini mbak." "Iya pak, bisa..bisa. Jam berapa pak?" (senang luar biasa). "Sekarang ini mau siap-siap mbak." (asyik). Allah Maha Mendengar.

Kami berlima di dalam mobil. Pak Nan (staf operasional andalan kantor), Pak E (manajer saya), mbak Cit (konsultan HRD kantor), saya, dan mbak Vi (alumni karyawan kantor). Sepanjang perjalanan semua orang terlibat pembicaraan tentang banyak hal, kecuali saya yang cuma mendengarkan, senyam-senyum dan ikut tertawa saja. Aslinya mah saya nggak ngerti mereka bicara soal apa, hehe. Sampai pada persoalan kantor yang kabarnya berencana mengadakan event dan membuka cabang di Hongkong. Manajer saya meminta Mbak Cit untuk ikut sebagai konselor bagi TKI di Hongkong yang jumlahnya kurang lebih 150.000 orang dan bla...bla...bla... Mbak Vi, sang alumni kantor, spontan mencak-mencak antusias. "Aku ikut. Aku ikut. Meskipun nggak dibayarin sama kantor, aku berangkat sendiri juga nggak papa kok." Loyal banget deh mbak satu ini. Lalu dia meneruskan,"Nanti di sana aku jadi kayak Rinai di novelnya Mbak Shinta Yudisia juga nggak papa. Kalau dalam novelnya kan, Rinai itu bukan siapa-siapa dan nggak terlibat dalam hal apapun.Tapi dia selalu ada dalam cerita. Aku jadi kayak gitu nggak papa deh."

Rinai. Aku juga mau jadi Rinai. Bahkan, sepertinya sayalah Rinai di dalam mobil itu.