Kamis, 21 Februari 2013

Kau Datang Lebih Dulu


Mimpiku. Mimpimu.

Aku yakin, mimpimu bahkan lebih indah dari mimpiku.
Pun mimpimu lebih mulia dan berkelas.
Dan ku katakan, engkau layak mendapatkannya.
Bekerja di tempat baru dengan imbalan yang mungkin lebih besar.
Mengirim rupiah ke kampung untuk ibu.
Menyelipkan tips, meski tak seberapa di kantong para bocah pemimpi.
Meraih surga bersama pemilik rusuk kirimu dan membesarkan beberapa pemimpi kecil.
Begitulah, hanya kita yang tahu.
Kebahagiaan sederhana selama-lamanya yang kau inginkan.

Tapi sepertinya Allah menginginkanmu tetap di sini untuk beberapa waktu.
Dan aku di sana mengharapkan kau bisa menggantikan tempatku.
Tempat dimana mimpimu bisa kau rasakan lebih dekat.
Dimana segalanya menjadi mungkin dan mudah.
Atau bisa kau rasakan debar jantung itu terdengar bernada.
Nada indah pengiring mimpi pagi hari.

Di tempat itu.
Semangatmu selalu hangat dan tak pernah padam.
Kau cerdas sekali membuatnya agar tetap hangat, dan berkali-kali ia membara
Lalu milikku, aku tak yakin kau bisa merasakannya bahkan untuk diriku sendiri.
Tapi percayalah ia ada.
Itulah yang kau lakukan hingga sekarang. Tetap percaya bahwa mimpi-mimpi itu akan terwujud. Entah dalam bentuk dan rupa yang bagaimana, kau dan aku belum juga tahu.
Kau tetap percaya bahwa mimpi-mimpi itu bukan hanya milikmu seorang. Bukan untukmu saja.
Karena di dalam mimpimu ada mimpi-mimpi mereka, juga mimpiku. Itulah bedanya.
Kau selalu membagi hangat mimpi itu denganku, juga mereka. Tapi, aku tidak. Aku nyaris beku.
Namun, itulah mengapa engkau ada sedari dulu.
Untuk tak membiarkan bunga es dalam diriku merekah.
Engkau datang lebih dulu.
Untuk menjadi lebih kuat, dan menguatkanku.


Al-Banna, Kamar 2.
Untuk saudariku tercinta yang datang ke dunia ini lebih dulu.