Kamis, 28 November 2013

Good Faker

Orang plegmatis itu cenderung suka menurut dan pasrah. Bukan karena dia tidak memiliki pendirian, dia hanya tidak menyukai konflik. Orang plegmatis akan menyimpan masalahnya sendiri. Mungkin ada yang akan ia bagi, tetapi yang terdalam dia simpan untuk dirinya sendiri. Tekanan di dalam dada dan pikiran yang membuatnya sesak sering dimanifestasikan dalam bentuk air mata. *maka dari itulah, tersiksa sekali kalau tidak bisa menangis. Makanya orang plegmatis lebih suka menyendiri ketika stress. Pergi ke suatu tempat sendirian dan mencurahkan perasaannya di sana.

Orang plegmatis paling takut jika ada yang membencinya. Sehingga ia akan meminta maaf terlebih dahulu walaupun bukan dia yang bersalah. Tapi berhati-hatilah jika kamu menyakitinya. Karena ia tak akan bilang padamu ketika ia tersakiti. Ia akan menyimpan perasaannya dan sedih sendirian. Orang plegmatis biasanya akan bersikap biasa-biasa saja bahkan cenderung tanpa ekspresi di hadapan orang-orang, ketika ia sedang sedih atau senang.  
  "Kamu tak akan pernah tahu seberapa dalam dukanya, ketika kamu menyakitinya. Dan kamu juga tak akan pernah tahu seberapa bahagianya ia ketika kamu berbuat baik padanya."

Bahagia dan duka yang ia rasakan tak pernah sepenuhnya ia keluarkan. Orang plegmatis menyukai kelembutan, tapi ketika dirinya ditekan & ditindas, ia akan berubah menjadi korelis yg akan memperjuangkan haknya. Jika seorang plegmatis meluapkan emosinya, tak lama setelah itu ia akan tersadar dan ia akan menyesalinya. Ia akan menyesalinya karena merasa dirinya mungkin telah menyakiti orang lain. Lalu kembali menikmati sakitnya sendirian.

Ah, flegmatis. You are good faker.

Ini mengambil kutipan dari sebuah blog http://newgeonite.blogspot.com/2012/04/plegmatis-peace-is-everything.html *dengan fokus pada flegmatis saja.

Senin, 25 November 2013

Surat Cinta Muharram


Kakak, sudahkah sampai kabar padamu tentang Muharram yang tengah berpamit? Tahukah dalam Muharram aku lebih sering mengingatmu. Lebih sering dari Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah. Aku juga ingat tentang do’a yang kau titipkan padaku. Dan ketika hujan, aku merapalnya untukmu. Kenapa waktu hujan, jangan kau tanya ya. Alasannya sentimentil.*smile

Waktu pertama Muharram hendak tiba, sejak dari waktu itu ingin kusampaikan surat cinta ini padamu. Ternyata lama sekali tertahan di hati. Ah, tapi kau lebih tahu alasan sebenarnya. Adikmu yang pemalunya keterlaluan ini, memang begini adanya. Meski begitu aku selalu berusaha menempatkannya dengan benar kak. Berusaha untuk tidak mengatakan “mau bagaimana lagi?” pada keadaan. Huf, kenapa jadi bercerita tentang diri sendiri. *mari kembali fokus

Ternyata hujan turun di pertengahan Muharram. Beberapa kali ia mengguyur deras di kota Surabaya, dan sejauh ini aku senang. Karena ada pintu rahmat-Nya yang terbuka, membiarkan do’a-do’a kami menyelinap masuk minta dikabulkan. Aku berdo’a (selain do’a yang kau titipkan waktu itu) agar Muharram tahun ini, aku menjadi muslim yang lebih baik dan senantiasa lebih baik. InsyaAllah.

Dalam setiap kata yang merangkai do’aku, ada takut dan berupa-rupa cemas yang kurasakan. Muharram ini, mengingatkanku akan jarak waktu pertemuanku dengan Izrail semakin dekat. Kakak, ternyata aku sudah sebesar ini. Aku tahu kau akan kesal dengan pernyataanku ini, sambil menimpali “kalau kamu sudah tua, lalu aku apa?”. Tentu saja kakak lebih tua. *hehe maaf lugas banget

Kadang aku berpikir dan mencoba mengingat-ingat, bagaimanakah dirimu ketika kau melewati masa usia ini, kakakku tersayang. Aku selalu bertanya-tanya, sudah tepatkah apa yang aku lakukan sekarang? Apakah yang bisa kuberikan dengan apa yang kumiliki sekarang ( emang lo punya apa? ) ? Bagian manakah yang harus kuperbaiki? Aku selalu merasa bodoh dan tidak tahu apa-apa. Selalu merasa ada yang belum kumiliki di saat yang lain memilikinya di usia begini. Selalu merasa belum melakukan apa-apa untuk orang lain. *emang belum kali ya. Selalu merasa ada tugas perkembanganku yang belum kuselesaikan pada fase perkembanganku sebelumnya. *maksudnya apa coba?

Kak, sebentar lagi usiaku akan menjadi genap. Genap melengkapi rasa kekhawatiranku. Dan Muharram ini, ia makin menjadi-jadi. Terlebih lagi jika melihat bagian bulan yang semakin menipis. Sama seperti ketika Muharram pertama kali datang. Setiap hari, kusampaikan pada-Nya tentang diriku. Walaupun aku tahu, Dia adalah Maha Mengetahui. Bahkan jauh lebih mengerti dari diriku sendiri. Tetap saja, aku ingin menyampaikannya lewat kata-kataku yang tak baku. Sungguh, Dia adalah Arrahman & Arrahim. Bukan karena Allah tak cukup bagiku. Sungguh Allah adalah lebih dari cukup bagiku. Aku hanya ingin menyampaikannya padamu. Saudariku yang selayak imam di rumah kami. Saudariku yang selalu membuat hati kami tenang dan tenteram karenanya. Semoga keberkahan & rahmat-Nya senantiasa mengiringi langkahmu. Uhibbukifillah.


Haqqiya, 26 Muharram 1435 H.

Sabtu, 23 November 2013

Muharram


Muharram sudah hampir waktunya berpulang. Tidak seberapa makna yang kurasakan. Karena baru-baru ini saja aku mengenalnya. Meski begitu, Muharram tetap tak kehilangan istimewanya. Selalu dikenang berkat hijrahnya seseorang yang amat kami cintai. Cinta kami pada manusia mulia ini, membuat kami mencintai apa saja tentangnya. Mencintainya, mencintai Muharram-Nya.
Robbi, demi Muharram yang suci. Jadikanlah hamba seorang muslim yang lebih baik. Agar tak terlalu berat rasa malu padanya.

*Rindu Allah. Rindu Rasulullah. Rindu Ibu. Rindu Kakak. Rindu adik-adikku tersayang.

Jumat, 08 November 2013

Walking Westward

Walking westward in the morning, the sun follows from behind
I walk following my lengthened shadow before me
The sun and i dont argue about which one of us creates the shadow
The shadow and i dont argue about which one of us must lead the way.

berjalan ke barat di waktu pagi, matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan

_ Sapardi Djoko Damono


*puisi ini kutemukan di halaman sekian, majalah Horizon. ketika menggeledah perpustakaan berdebu di sma dulu. yang ternyata kujadikan quote di facebook.

Rabu, 06 November 2013

Entah





Tuhan, kurasa hatiku sudah memuai menyesak dada. Namun entah kenapa kantung mataku serupa baja saja. Airmataku seperti terbendung entah di bagian mana.




 

Senin, 28 Oktober 2013

( Don't be ) Weary

Sejenak saja, aku ingin menepi. Di persinggahan yang aku buat sendiri, mungkin semenaku sendiri.

Pantai sudah dekat, tapi aku masih terengah di bawah nyiur kelapa. Riuh manusia bersahut dengan lagu ombak sore hari, kudengarkan sambil mengatur napas. Suaranya ringan dibawa angin laut yang merapat ke darat. Aku juga ingin segera ke sana, menyapa ujung ombak di kakiku yang lelah.
Sudah terlalu lama aku terpekur di sini. Adakah orang yang masih berjalan di belakangku, menepukku dan mengabarkan bahwa sebentar lagi matahari akan tenggelam.

"Seharusnya kau merasa takut, karena warna kuning kemerahan di punggung pantai mulai menipis."

Ya, aku sudah ketakutan. Sangat takut. Sampai aku berat mengayunkan langkah. Karena napasku kini tak teratur lagi. Barang sejenak saja, dan tunggu aku di sana. 

( Don't be ) Weary. Move on.

Kamis, 21 Februari 2013

Kau Datang Lebih Dulu


Mimpiku. Mimpimu.

Aku yakin, mimpimu bahkan lebih indah dari mimpiku.
Pun mimpimu lebih mulia dan berkelas.
Dan ku katakan, engkau layak mendapatkannya.
Bekerja di tempat baru dengan imbalan yang mungkin lebih besar.
Mengirim rupiah ke kampung untuk ibu.
Menyelipkan tips, meski tak seberapa di kantong para bocah pemimpi.
Meraih surga bersama pemilik rusuk kirimu dan membesarkan beberapa pemimpi kecil.
Begitulah, hanya kita yang tahu.
Kebahagiaan sederhana selama-lamanya yang kau inginkan.

Tapi sepertinya Allah menginginkanmu tetap di sini untuk beberapa waktu.
Dan aku di sana mengharapkan kau bisa menggantikan tempatku.
Tempat dimana mimpimu bisa kau rasakan lebih dekat.
Dimana segalanya menjadi mungkin dan mudah.
Atau bisa kau rasakan debar jantung itu terdengar bernada.
Nada indah pengiring mimpi pagi hari.

Di tempat itu.
Semangatmu selalu hangat dan tak pernah padam.
Kau cerdas sekali membuatnya agar tetap hangat, dan berkali-kali ia membara
Lalu milikku, aku tak yakin kau bisa merasakannya bahkan untuk diriku sendiri.
Tapi percayalah ia ada.
Itulah yang kau lakukan hingga sekarang. Tetap percaya bahwa mimpi-mimpi itu akan terwujud. Entah dalam bentuk dan rupa yang bagaimana, kau dan aku belum juga tahu.
Kau tetap percaya bahwa mimpi-mimpi itu bukan hanya milikmu seorang. Bukan untukmu saja.
Karena di dalam mimpimu ada mimpi-mimpi mereka, juga mimpiku. Itulah bedanya.
Kau selalu membagi hangat mimpi itu denganku, juga mereka. Tapi, aku tidak. Aku nyaris beku.
Namun, itulah mengapa engkau ada sedari dulu.
Untuk tak membiarkan bunga es dalam diriku merekah.
Engkau datang lebih dulu.
Untuk menjadi lebih kuat, dan menguatkanku.


Al-Banna, Kamar 2.
Untuk saudariku tercinta yang datang ke dunia ini lebih dulu.