Karena
kamu, Saudariku
Ketika masih anak-anak,
aku pernah membayangkan bagaimana potret diriku bila dewasa nanti. Aku
memimpikan diriku menjadi wanita muda yang anggun dan cerdas. Anggun, dilihat
dari kacamataku waktu itu, adalah berpenampilan kasual tapi menarik, punya inner beauty yang selalu bisa membuat
setiap mata terkagum, dan tampak cerdas. Bahkan aku merancang style berpakaianku sendiri di dalam
imajiku. Seperti aku memiliki rambut hitam sebahu yang terurai, memakai sweater
coklat tua, bercelana levis agak longgar (jujur saja, dari kecil aku paling
benci dengan celana ketat yang sangat ketat), di lengan kiriku menggantung
jaket biru, sedang tangan kananku menyeret koper kecil. Aku (membayangkan) baru
saja pulang dari Australia, Korea Selatan, Turki, Belanda, Jerman atau Inggris,
entahlah, yang jelas aku pulang bersama mimpiku.
Selalu begitu yang ada
dalam kepalaku hingga aku menjelma remaja 14 tahun. Keluarga kami adalah
keluarga yang biasa, terlebih soal keislamannya. Bapak dan Ibu tidak pernah
menyuruh kami, aku dan kakak perempuanku, untuk memakai jilbab. Mereka juga
bukan orangtua yang bermimpi anaknya akan masuk pesantren atau sekolah islam.
Mereka hanya mengajarkan kami untuk tidak meninggalkan sholat, rajin mengaji
dan rajin belajar. Memakai jilbab dan berbaju muslim hanya kami lakukan ketika
hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Ah, juga setiap jum’at sekolahku mewajibkan
siswanya memakai pakaian muslim. Sekolah Dasar Negeri favorit di desaku.
Bapak sudah kembali
pada-Nya lebih dulu ketika aku berusia 8 tahun. Sepeninggal Bapak, hidupku dan
(tentunya) juga hidup Ibu, Mbak Hery, serta dua adik laki-lakiku seperti musim pancaroba
yang panjang. Semuanya menjadi lebih sulit, termasuk untuk biaya sekolah kami,
anak-anak Ibu. Akhirnya, aku harus ikut Pak Dhe dan memulai hijrah pertamaku
usai lulus SD. Sejak saat itu, biaya sekolah dan hidupku adalah tanggung jawab
Pak Dhe, juga Bulek Ulis yang rumahnya tidak jauh dari rumah Pak Dhe, di
Bangkalan, Madura.
Selama memulai hidup di
Madura, gambaran diriku ketika dewasa juga masih sama, tidak berubah. Sebagai
penanggungjawab, Pak Dhe juga tidak pernah menyuruhku mengenakan jilbab ataupun
berencana mendaftarkanku ke sekolah Islam. Keluarga Pak Dhe sama biasanya,
bukanlah keluarga yang patuh syariat. Karena pemahaman kami tentang Islam
adalah seputar sholat lima waktu, mengaji, puasa, membayar zakat, dan berhaji
bila mampu. Teman-temanku, ada beberapa yang berjilbab. Tapi aku tidak pernah
bertanya mengapa mereka berjilbab, paling-paling karena disuruh orangtua,
pikirku.
Aku 14 tahun, Mbak Hery
18 tahun. Aku naik ke kelas 9 di SMP favorit di kecamatan tempat Pak Dhe
tinggal, Mbak Hery naik ke kelas 3 SMA favorit di kotaku dulu. SMA yang juga
selalu menjadi SMA favoritku, sebelum akhirnya hidupku harus berlanjut dan
berpindah ke seberang pulau bersama Pakdhe dan Budhe, juga Bulek. Usia kami
terpaut 4 tahun, dan jarak kami terpaut ratusan kilometer. Tetapi setiap
liburan akhir semester dan lebaran, kami selalu berkumpul di kota kecil kami,
di Magetan. Liburan semester tahun 2006, tiba-tiba saja Mbak Hery punya seragam
lengan panjang, rok panjang dan jilbab menjuntai menutupi dada di tahun
terakhirnya di SMA. Mbak Hery sudah mantap berjilbab. Ketika masa SMA-nya
berakhir satu tahun lagi, dan tidak menunggu pendaftaran kuliah. Nanggung banget, pikirku. Tetapi Mbak
Hery, dialah yang membuatku jadi berpikir, untuk pertama kali, ingin memakai
jilbab. Alasannya, karena dia adalah kakak, dan aku adik.
Ketika aku pulang, jika
ia tak sibuk, Mbak Hery selalu mengajakku jalan-jalan agar tak menjadi gadis
pingitan di rumah sendiri. Entah sekedar berkeliling alun-alun kota atau
mencari tempat makan yang enak untuk berwisata kuliner. Hingga tiba-tiba suatu
kali, Mbak Hery jadi lebih sering mengajakku ke sekolahnya (SMA favorit yang
kulupakan) atau acara buka bersama dengan teman-teman satu ekstrakurikulernya.
Sebagian besar teman-teman Mbak Hery berjilbab rapi dan lebar, seringkali
membuatku membatin ‘wah’ dan ‘wow’. Dan aku pun heran bukan main, ketika acara
buka bersama, tempat laki-laki dan perempuan harus terpisah. Berbicara dengan
lawan jenis pun harus menunduk-nunduk. Apa sih yang mereka lakukan? Inikah yang
membuat Mbak Hery berubah ‘habis-habisan’. Kata ‘habis-habisan’ itu tentu tidak
berlebihan, karena itu kenyataan. Aku adalah korban bullying-nya selama 12 tahun dan korban sifat temperamental-nya
selama 12 tahun pula. Tiba-tiba saja dia menjadi lebih sabar, berbicara lemah
lembut, dan mati-matian menahan amarah ketika aku mulai menjengkelkan.
Tahun 2007, dua tahun
setelah Mbak Hery berjilbab, muncul hasrat dalam hatiku untuk berjilbab.
Sebenarnya sudah satu tahun hasrat itu kupendam, tepatnya setelah peristiwa
‘terheran-heran’ dan ‘habis-habisan’ itu. Namun, aku lebih memilih untuk
menunggu waktu yang tepat, seperti saat pendaftaran siswa baru di SMA waktu
itu. Tetapi nyatanya, Mbak Hery justru belum mengizinkan ketika yang lain
setuju-setuju saja. Kira-kira beginilah ceritanya..
“Mbaak, masuk SMA nanti
aku pengen pakai jilbab.”
“Kenapa?” Selidik
pemilik suara dari seberang telepon, suara Mbak Hery. Aku menghela napas.
Kenapa malah tanya ‘kenapa’?
“Biar nanti adaptasinya
nggak terlalu susah, dari nggak pakai jilbab ke pakai jilbab.” Bukan itu
maksudku sebenarnya, walaupun itu juga menjadi bahan pertimbanganku sebelum
memakai jilbab. Perubahan yang dilakukan pada masa perubahan (baca: peralihan
dari SMP ke SMA), maka kelihatannya tidak akan terlalu menonjol bukan. Akan
lebih mudah diterima, pikirku begitu. But
after all, aku ingin menutup aurat seperti yang sering digaungkan oleh
salah satu majalah Islami untuk remaja itu.
“Udah bilang ke Budhe
sama Bulek? Gimana responnya?” Jadi untuk sementara, saat itu restuku ada pada
dua orang baik hati ini sebagai pengganti Ibu.
“Mereka sih
setuju-setuju aja mbak.”
“Hmmm…. Nggak usah dulu
ya. Pakai jilbab itu nggak boleh sembarangan lho. Ada beban moral yang harus
kamu pertanggungjawabkan nanti. Kalau kamu belum siap, lebih baik ditunda aja
ya.” Mbak Hery menuturkan padaku dengan
sangat hati-hati. Meskipun sudah berbalut jilbab bak bidadari bumi, bagiku ia
tetaplah makhluk paling menakutkan di rumah kami. Aku mengangguk pasrah dan
kecewa dari ujung Indonesia yang lain.
“Oh, gitu. Yaudah
mbak.” Begitulah kira-kira aku menyuarakan kekecewaanku waktu itu.
Oh ya Allah, ini bukan
perihal siap atau tidak siap bagiku. Aku hanya ingin pakai jilbab, itu saja.
Dan yang ada dalam pikiranku saat itu bukanlah masalah tentang tanggung jawab,
lebih-lebih beban moral. Aku hanya ingin pakai jilbab, seperti mbak Hery… Saudariku
satu-satunya itu mungkin khawatir jika keinginanku untuk pakai jilbab hanyalah sekedar
ikut-ikutan saja.
Dalam selang waktu yang
lama sekali kupikirkan, mungkin Allah pun belum mengizinkan. Ada banyak hal
yang belum aku ketahui. Tentang jilbab, tentang menutup aurat, tentang agamaku,
tentang Islam.
Mbak Hery belajar
tentang Islam lebih banyak dari kegiatan ekstrakurikuler yang diikutinya di SMA
favorit, Rohis (Kerohanian Islam). Semenjak ikut Rohis, ia sering membeli
majalah Annida, salah satu majalah Islami untuk remaja, yang akhirnya aku
ikut-ikutan membaca. Ia membeli buku-buku Islami yang setiap liburan semester
kugondol ke seberang pulau. Aku
sedikit kecewa karena di SMA-ku tidak ada ekstrakurikuler kerohanian Islam.
Masa-masa SMA,
bagaimanapun, sangat menyenangkan. Sebagian besar sahabat dan teman-temanku
tidak berjilbab. Sebagian besar dari mereka yang berjilbab pun seringkali
melepasnya jika di luar sekolah. Meskipun belum berjilbab, aku menyayangkan hal
itu. Sebagian besar dari mereka yang berjilbab masing-masing juga punya pacar,
berboncengan ketika pulang sekolah, atau malam mingguan bersama. Meskipun belum
pakai jilbab, ada banyak tanya yang menghantuiku ‘kenapa mereka seperti itu’. Mungkin
saja mereka belum tahu, sama sepertiku yang masih belum tahu apa-apa lebih
banyak. Coba saja mereka membaca Annida, yang selalu membuat hatiku mantap
untuk berjilbab. Ada bagian dari hatiku yang selalu mengatakan, “suatu saat
nanti kamu harus berjilbab”.
***
Masa itu pun tiba,
lulus dari SMA aku memutuskan untuk memakai jilbab. Mbak Hery tidak bisa
mengatakan apa-apa lagi, kecuali mendukungku. Masih jelas dalam ingatanku,
jilbab pertama yang kupakai waktu itu adalah jilbab instan berwarna putih.
Kupakai saat menjalani ujian SNMPTN dengan baju lengan panjang coklat dan celana
jins longgar. Alhamdulillah, mungkin inilah berkah dari berjilbab, aku diterima
di salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya. Sebelum registrasi pun, aku
membuat foto pertamaku memakai jilbab. Foto itu selama bersemester-semester
terpampang di kartu mahasiswaku. Dan aku suka itu.
Memakai jilbab,
Alhamdulillah sudah terlaksana. Tidak berhenti sampai di situ, aku pun mengikuti
UKM kerohanian Islam untuk memperdalam pemahamanku tentang Islam. Dari seorang
teman di kampus juga, aku bertemu dengan saudara-saudara yang luar biasa dalam
sebuah majelis kecil setiap pekan. Kami melingkar, berbagi ilmu tentang Islam
dan mengikat persaudaraan seiman. Ya Allah, segala puji bagi-Mu yang telah
mempertemukanku dengan orang-orang yang luar biasa. Kebahagiaan itu tak bisa
kubendung, begitu tiada tara kurasakan.
Namun setiap hamba akan
selalu ada ujiannya masing-masing. Semakin aku mengerti, semakin aku ingin
sedapat mungkin menjalankan perintah-Nya dan sunnah Rasul-Nya dengan baik. Aku
ingin berjilbab rapi, menjaga diri dan tetap istiqomah. Seperti berusaha tetap
berjilbab ketika keluar rumah, menjaga diri dari yang bukan mahromnya. Itulah
ujiannya, Bu Dhe seringkali marah karena bila menyuruhku membeli sesuatu di
toko, aku jadi lebih lama karena mesti berjilbab dulu. Ini berlangsung cukup
lama sekali, selama dua tahun selalu seperti itu. Aku hanya bisa menahan diri
dan bersabar ketika harus mendengarkan kemarahannya. Meski tidak jarang juga,
hal ini membuatku menangis. Kukatakan pada diri sendiri bahwa ini hanyalah soal
pembiasaan. Aku memikirkan bagaimana caranya agar Bu Dhe tidak marah lagi.
Menjelaskan ayat-ayat tentang menutup aurat, ah yang benar saja, mungkin aku
akan dianggap teroris. Aku menyiasati diri untuk memakai jilbab setelah mandi
dan terus memakainya sampai menjelang tidur. Maka ketika Bu Dhe meminta tolong
beli sesuatu, aku tinggal melesat saja. Alhamdulillah, seiring waktu Bu Dhe
mulai memaklumi dan menerima.
Aku belum lama memakai
jilbab. Jilbab dan baju-baju syar’iku tak banyak. Namun Allah membukakan pintu
rizqi-Nya dengan adanya lowongan guru les privat di sekitar kampus. Sekarang
semuanya terasa mudah.
Ketika ada keinginan
berjilbab tak segera terpenuhi, mungkin masih ada yang ingin Allah sampaikan. Mungkin
Allah ingin kita memahami terlebih dahulu hakikat kita berjilbab. Dan Allah-lah
yang Maha Mengetahui kapan waktu itu tiba. Sebuah hadits pernah menyebutkan, “Siapa yang Allah inginkan kebaikan padanya.
Dia pahamkan dirinya tentang agama.”
28 Februari 2014
Cerita ini saya kirimkan ke lomba "Cerita Jilbab" yang diadakan oleh FSLDK. Berhubung tidak ada konfirmasi dari panitia, jadi saya posting saja di sini.