Tampilkan postingan dengan label Satu Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Satu Cerita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Agustus 2017

Guilt


Dari berbagai jenis emosi yang saya pelajari dalam psikologi, ada satu jenis yang paling susah hilang dari dalam diri saya. Tapi menurut mereka, para ahli kepribadian itu, emosi atau perasaan satu ini memang sudah melekat dengan tipe kepribadian seperti saya. Haha, baiklah. Ini bukan kutukan, ini adalah anugrah. Yang harus kita sambut dengan penerimaan. Acceptance. Dan hanya bisa diobati dengan..memaafkan. Forgiveness.

Well, mungkin sebagian besar orang pasti pernah merasakan hal ini. Feeling guilty. Ngerasa bersalah. Apapun itu, kepada siapapun, bahkan sama diri sendiri. Dan yang terakhir ini, adalah yang paling susah ngilanginnya. Bagi saya sih. Apalagi kalau itu berkaitan dengan orang yang kita sayangi. Hmmh, speechless jadinya.

Emang kenapa sih? Udah lama nggak nengokin ini blog, terus tiba-tiba curcol. Maaf yaah.
Tapi gengs, seberat apapun masalah yang kamu alami, sesakit apapun yang kamu rasakan, kamu nggak perlu bercerita detail di blog (even blog pribadi, yang cuman kamu aja yang tahu), apalagi sosial media. Mmh, jangan deh. Karena sebenernya kamu nggak butuh itu. Yang kamu butuhkan cuman satu. Yaitu, Allah. Curhat aja sama Allah. InsyaAllah lebih menenangkan. InsyaAllah lebih asyik. :)

Akhir-akhir ini, saya sering nyalahin diri sendiri. Ngrasa bersalah banget sama seseorang. Seseorang yang istimewa dalam hidup saya. Hmmh…bener-bener speechless. Meskipun udah lama banget kejadiannya, tapi guilty feeling ini nggak hilang-hilang. Sepertinya butuh waktu lama bagi saya untuk memaafkan diri sendiri. Berdamai dengan diri sendiri. Okey, semangaat be..


I did something wrong. And it hurt myself. Just myself.
Allah, forgive me. And help me to forgive myself.
And…please, give Your love and blessing for her. Bless her happiness and healthiness.

I love her. But Your love is greater.


#엄마, 미안해

Minggu, 29 Maret 2015

I Want to Skip Monday

So, this is how its feeling. "Want to skip Monday" feeling. I think, it's my first time to refuse Monday's coming.

Cerita tentang orang-orang yang membenci hari Senin sudah sangat biasa. Saya sering mendengar cerita seperti itu dari penyiar-penyiar di radio. Mereka selalu menyapa pendengar dengan "have a nice weekend" ketika Jum'at hampir berakhir. Namun jarang sekali terlontar kata-kata "have a nice Monday" untuk pendengar. Saya pikir, apa beratnya mengatakan "selamat berjumpa hari Senin. Mari kita sambut dengan semangat". Bukankah itu lebih positif dan lebih terdengar optimis? Mengapa hari Senin seolah begitu menyeramkan bagi mereka? Toh kita pun akan melewatinya pada akhirnya. Sama seperti hari-hari biasanya. Bahkan dalam Islam, justru hari Senin merupakan hari dimana datangnya kabar gembira dilahirkan. Hari Senin adalah hari lahirnya orang paling mulia di sisi Tuhan, Muhammad SAW. Lovely Monday.

Tapi, Ya 'Aziz. Maafkan aku. Hari ini, untuk pertama kalinya, aku merasa tidak ingin bertemu hari Senin. I want to skip Monday.

Minggu, 01 Februari 2015

About My Hand


Salah satu adik letting sewaktu masih di kontrakan Al-Banna dulu pernah bilang;
"Mbak Bekti aku suka deh sama tangannya anti. Tangannya aja.. Hehehe." -__-'
"Eee.. makasiih...". Aslinya dia tuh kehilangan banget ketika aku alhamdulillah lulus, dan meninggalkan dunia kampus, begitu juga kontrakan tercinta beserta penghuninya yang sholihah-sholihah. 


Semoga gambar ini sampai padamu, dan mengobati rindumu ya dek. #lebay #GR

Sabtu, 31 Januari 2015

Berkaca-kaca

"Waduh bu'... tadi kan saya sudah bilang untuk memasukkan biaya payroll per karyawannya di kuitansi kami."
"Oh iya pak. Maaf saya lupa. Bagaimana dong pak?"

Deg. Tiba-tiba saja aku terdiam di depan pegawai bank syariah tertentu itu. Rasanya ada yang mau keluar dari mataku. Aku tahu aku sudah tertangkap basah. Pegawai bank itu jelas melihat sesuatu yang menggenang di kantung mataku. Sontak saja aku menunduk, mencari-cari ponselku, menekan-nekan layar ponsel, mencari-cari nama dua orang di kontakku. Pertama, manajerku. Kedua, teman kerja yang kenal dan satu almamater dengan Kepala Cabang bank tersebut.
"Berdo'a saja agar tidak dipecat atau kehilangan nasabah." Gerutuku dalam hati. Mendramatisir perasaan.

Tut..tut..tut.
Ternyata dua-duanya tidak bisa dihubungi. Sibuk.
Meski begitu, aku tetap saja menekan-nekan layar ponsel. Sekuat tenaga menahan sesuatu yang ingin buncah. Karena dua jam sebelumnya, aku duduk di kursi yang kurang lebih sama.

"Kemarin kami sudah menyampaikan ke orang yang sebelumnya ke sini." Itu manajer gue. "Bahwa berkas yang diperlukan adalah ini...ini...dan ini..bu'."
"Oh.. begitu ya pak. Saya belum tahu."
"Ibu baru ya di LMI?" Ih, tahu aja.
"Iya pak. Kalau mau mencairkan cek dari bank M di sini nggak bisa ya ?"
"Yaa bisa pakai kliring. Tapi prosesnya lama, bisa 2 sampai 3 hari." Aku menelan ludah.
"Jadi gimana?"
"Bisa dicairkan ke bank M dulu.. kemudian setor tunai ke sini bisa bu'."

Ini masalah kesejahteraan umat. Harus segera diselesaikan dan tidak bisa menunggu terlalu lama. Dampaknya bisa sistemik #halah. Lalu, aku berangkat ke bank M. Jarak bank syariah ke bank M lumayan menguras energi dan menyerap polusi Surabaya (meskipun sudah pakai masker). Apalagi jumlah dana yang dicairkan nggak sedikit. Sempat syok ketika si teller menyodorkan amplop coklat tebal banget ke aku. Pikiranku saat itu macam-macam. Kalau ada yang merampok bagaimana? Uangnya hilang, dan aku harus menggantinya. Butuh waktu berapa lama untuk melunasinya? Itu setara dengan gajiku selama 3 tahun, men.
Dari bank M aku menuju bank syariah tertentu untuk menyetorkan uang. Kemudian kembali ke kantor untuk mengambil berkas yang tertinggal. Dan... kembali ke percakapan awal tadi.

"Duh.. gimana ya bu? Tadi kan sudah saya bilang... Maksudnya daripada bolak-balik lagi.."
Haa.. balik lagi?! T.T
"Kalau dicoret saja gimana pak, diganti dengan tambahan nominal pembayaran tadi?"
"Yaa bisa sih bu. Tapi harus orang yang tanda tangan ini yang tanda tangan lagi di sini.." Begitulah aturan akuntansi. Pfft. Masa iya aku minta atasanku ke sini hanya untuk tanda tangan. #tungtung.. memangnya orangnya mau? Enggak.. >.<
"Ee.. sebentar ya bu' saya tanyakan dulu." Aku hanya mengangguk. Sepertinya si pegawai itu mulai iba padaku, atau mungkin takut kehilangan nasabah. Tak berselang lama dia kembali.
"Baik. Begini saja bu', biaya payroll per karyawannya dibayarkan tunai saja. Nanti mengisi form dulu ya bu'. Akan dibantu sama Mbak Cici (bukan nama sebenarnya)."
"Iya." Jawabku sok tegar, masih dengan mata berkaca-kaca.

15 menit kemudian aku keluar dari bank. Menghela napas panjang-panjang. Hari itu cukup melelahkan. Juga maluuu sekali rasanya. Rasanya tidak ingin kembali ke sana... tapi bulan depan harus ke bank itu lagii. Hiks.


26012015

#LMI semoga selalu diberkahi

Senin, 26 Januari 2015

Hey Psikologi !

Sudahlah.. aku menyerah ya Allah. Engkau memang yang paling tahu apa yang kubutuhkan. Atas jalan yang telah Engkau pilihkan, aku tak berani mendebat-Mu. Aku tak berhak... bahkan atas hidupku sendiri, Engkaulah yang menggenggam jiwaku.
It's been two months. Saya bekerja sebagai staf HR di sebuah lembaga. Well, lembaga ya.. bukan perusahaan guedhe kayak tempat teman-teman saya kerja. Tapi saya sudah dibuat pusing nggak karuan. Uring-uringan sendiri sama diri sendiri. (karena saya nggak mungkin uring-uringan di depan teman-teman kantor yang sholih & sholihah).. Astaghfirullah.

It's unbelievable. Terkadang saya suka bertanya-tanya sendiri,"kok aku bisa sampek sini ya? gimana ceritanya?" Bukannya apa.. hanya saja bidang pekerjaan saya sekarang adalah bidang yang paling saya hindari dulu ketika kuliah. "Psikologi Industri & Organisasi?" "Hohoho, nggak deh. Bukan gue banget." Sewaktu ada mata kuliah pilihan, mata kuliah yang tak pernah saya lirik adalah semua mata kuliah yang berhubungan dengan PIO. Sudah seperti alergi begitu. #lebay

By the way, Psikologi itu ranahnya luas banget lhoh.. ada bidang pendidikan bagi yang suka dengan perihal didik-mendidik, ada psikologi sosial bagi yang punya jiwa sosial & suka blusukan ke masyarakat, ada lagi psikologi perkembangan bagi yang antusias dengan anak-anak kita yang berkebutuhan khusus, ada juga psikologi klinis bagi yang berminat dengan kejiwaan, and then.. ada psikologi industri & organisasi bagi yang suka dengan dunia karir di perusahaan. Psikologi itu keren deh pokoknya. Ilmunya komplit dan hampir digunakan di seluruh aspek kehidupan. Karena pada hakikatnya, subjek dari Psikologi itu sendiri adalah manusia. Dan siapakah manusia? Mereka yang menjalankan roda kehidupan di Bumi ini. Maka ada yang mengatakan, dimana ada manusia, di situlah Psikologi berperan. Asli keren kan. Jurusan yang sempat saya ragukan dan membuat saya dirundung kegalauan ini.. ternyata bisa membuat saya jatuh cinta pada akhirnya. Saya masih ingat.. saya pernah membuat postingan seputar pilihan saya mengambil kuliah Psikologi di Menunggu Kujatuh Cinta.

Saya sempat berpikir, mungkin suatu hari nanti saya akan meninggalkan ke-Psikologi-an saya setelah selesai kuliah. Tapii, saya adalah tipikal orang yang susah move on dan maunya lurus-lurus aja, bukan risk-taker banget lah. Jadi.. saya bertekad mencari pekerjaan yang sebisa mungkin.. masih linier dengan jurusan saya. Sudah susah-susah kuliah Psikologi 4 tahun, terus kalau ilmunya nggak kepake kan.. mubadziir. Hehe.

Begitulah singkatnya.. sehingga saya berada di sini sekarang. Di sebuah tempat yang sudah Allah pilihkan.. Tempat kerja yang something banget pokoknya. Allah is the Best.


#LMI semoga selalu diberkahi

Senin, 08 Desember 2014

Very Kind Stranger

Apa sih yang ada di benak kita jika bertemu dengan orang baru? Beragam tanya dan rasa penasaran tentu saja. Siapa namanya, pekerjaannya apa, domisilinya mana, anything. Alih-alih kita hanya ingin memastikan apakah ia orang yang baik-baik atau sebaliknya, kita cenderung menjaga jarak sebagai bentuk pertahanan diri. Saya adalah termasuk orang yang cukup defensif jika bertemu dengan orang baru atau orang asing. Maklumlah, bagian introvert dari diri saya memang agak berlebihan.

Meskipun begitu, saya pernah bertemu dengan seseorang, teman temannya saya sewaktu kuliah dulu. Jadi saya punya teman, lalu teman saya punya teman juga, kemudian teman saya mengenalkan temannya itu pada saya (apa siih). Ceritanya kita berkenalan via sms seperti kopi darat begitu (eh bukan, itu chatting). Kemudian kita janjian untuk ketemuan (ciee..so sweet) di kontrakan saya. Ternyataa... dia adalah kakak letting satu fakutas tapi beda jurusan. Namanya Mbak Wid. Hari itu dia ada seminar proposal skripsi, jadi dia minta ditemani dan minta tolong yang lain-lain. Baru ketemu udah minta macam-macam. Tapi karena saya baik hati dan rajin menabung, saya bersedia membantu dengan senang hati. Enggak lah ya, tapi lebih karena kita saudara dari nabi Adam, hehehe. Seharian saya diajak wira-wiri dari kontrakan ke tambal ban (karena tiba-tiba ban motor Mbak Wid bocor, subhanaAllah cobaannya), ke kampus, ke resto beli konsumsi, ke kampus lagi, ke resto yang lain (karena ternyata pesanannya nggak sesuai), ke kampus lagi, dan ke kontrakan, lalu kami berpisah begitu saja (alah) tanpa Mbak Wid lupa memberikan pesanan yang nggak sesuai tadi buat saya. Well, kami baru pertama bertemu, tapi rasanya seperti sudah kenal lama. Mungkin ruh kami pernah bertemu sebelum kami dilahirkan ke dunia. Hehe.

Begitu pula dengan cerita 9 Desember kemarin, itu adalah pertemuan kedua saya dengan Mbak Vi.  Pada pertemuan pertama, kami hanya saling melempar senyum tanpa ada percakapan yang berarti dan berlalu begitu saja. Tapi hari itu kami melakukan perjalanan bersama seharian. Setengah hari kami menghabiskan waktu bersama menelusuri sawah-sawah di Pacet. Seperempat harinya Mbak Vi minta ditemani makan, ke rumahnya Mbak Shinta Yudhisia, dan ikut mengantar tamunya Mbak Shinta ke terminal Bungrasih. Lucu memang. Kami bertamu, kemudian kami ikut mengantar tamu yang lain (hihi).

They are strangers, but very kind.

Minggu, 07 Desember 2014

Rinai

Rabu, 3 Desember 2014 kemarin adalah hari ke-9 saya bekerja di sebuah lembaga zakat di Surabaya. Sehari sebelumnya saya terus saja memikirkan "apa ya yang harus saya kerjakan di kantor besok?". Karena manajer saya yang super baik & super sabar itu disibukkan oleh persiapan acara musyawarah kerja dan pendaftaran LAZ kami menjadi LAZNAS, saya jadi merasa sedikit terabaikan (uhuk..uhuk). Meaning, saya merasa belum tuntas di-briefing tentang pekerjaan saya. Maka bingunglah saya, rasanya ingin kabur saja dari kantor. Hehe. Sehabis sholat saya hanya berdo'a,"ya Allah gembirakanlah hatiku hari ini dan buatlah mudah urusanku hari ini." Begitulah tempat pelarian saya kalau sedang tidak enak hati. Mengadu pada Maha pemilik hati.

Dan siapakah yang lebih mengerti hatimu kecuali Allah? Pagi itu saya bergegas ke gedung sebelah untuk ikut Morning Motivation yang biasa dilaksanakan setiap pagi di lembaga tempat saya bekerja. Tiba-tiba saja manajer saya yang superbaik itu memanggil saya,"mbak Bekti bisa ikut ke Pacet buat survey tempat acara musker (musyawarah kerja) nanti?". "Ooh, kapan pak?" (pura-pura tanya, padahal udah tahu kalau hari ini). "Hari ini mbak." "Iya pak, bisa..bisa. Jam berapa pak?" (senang luar biasa). "Sekarang ini mau siap-siap mbak." (asyik). Allah Maha Mendengar.

Kami berlima di dalam mobil. Pak Nan (staf operasional andalan kantor), Pak E (manajer saya), mbak Cit (konsultan HRD kantor), saya, dan mbak Vi (alumni karyawan kantor). Sepanjang perjalanan semua orang terlibat pembicaraan tentang banyak hal, kecuali saya yang cuma mendengarkan, senyam-senyum dan ikut tertawa saja. Aslinya mah saya nggak ngerti mereka bicara soal apa, hehe. Sampai pada persoalan kantor yang kabarnya berencana mengadakan event dan membuka cabang di Hongkong. Manajer saya meminta Mbak Cit untuk ikut sebagai konselor bagi TKI di Hongkong yang jumlahnya kurang lebih 150.000 orang dan bla...bla...bla... Mbak Vi, sang alumni kantor, spontan mencak-mencak antusias. "Aku ikut. Aku ikut. Meskipun nggak dibayarin sama kantor, aku berangkat sendiri juga nggak papa kok." Loyal banget deh mbak satu ini. Lalu dia meneruskan,"Nanti di sana aku jadi kayak Rinai di novelnya Mbak Shinta Yudisia juga nggak papa. Kalau dalam novelnya kan, Rinai itu bukan siapa-siapa dan nggak terlibat dalam hal apapun.Tapi dia selalu ada dalam cerita. Aku jadi kayak gitu nggak papa deh."

Rinai. Aku juga mau jadi Rinai. Bahkan, sepertinya sayalah Rinai di dalam mobil itu.




Kamis, 18 September 2014

Lie is Pain

Apa yang menyenangkan dari sebuah kebohongan? Meskipun itu diperbolehkan oleh agama dalam kondisi tertentu, seperti kamu harus mengarang cerita untuk menyatukan dua saudaramu yang sedang berselisih. Apa yang menyenangkan? Meskipun itu demi kebaikan, tetap saja akan ada rasa tidak nyaman yang mengganjal. Seluruh tubuh kita tahu yang sebenarnya, tetapi lidah kita mengatakan hal yang berbeda. Apakah saya pernah berbohong? Ya, saya pernah. Rasanya seperti seluruh tubuh kita, khususnya hati, sedang memberontak di dalam. Sama seperti mahasiswa idealis yang berorasi di depan gedung DPR. Eh, nggak nyambung.

Saya menulis ini karena teringat wawancara saya di sebuah instansi, tempat saya mengajukan lamaran kerja. Saya mengantarkan surat lamaran ke alamat yang dituju (dengan berputar-putar dulu di jalanan Surabaya) pagi hari. MasyaAllah, sore harinya langsung diminta datang lagi untuk interview. Bingunglah saya. Saya tidak tahu harus mempersiapkan apa. Bisa dibilang, ini adalah wawancara kerja sungguhan yang pertama. I mean, it was my first interview to apply a full time job. Nervous, of course. But I tried to keep calm, so I could explain clearly.

Apapun pertanyaannya, saya jawab apa adanya sesuai dengan diri saya sebenarnya. Supaya tidak ada kesalahpahaman saat saya (mungkin) bekerja di tempat itu. Saya bilang, I'm a fresh graduate. No job experiences. Kalau dalam istilah psikologi, bisa saja kita melakukan faking dengan melebih-lebihkan kemampuan kita dari yang sebenarnya. Tetapi untuk apa? Berbohong itu tidak menyenangkan. Lie makes you feel unpleasant. Lie is pain.

Jadilah diri sendiri. Apapun yang ada dalam dirimu, syukurilah, belajar lebih banyak dan terus menjadi lebih baik. Salam super!

Rabu, 17 September 2014

A Few Days Journey with A Friend

Somebody said,"If you want to know someone better, then make a journey with her/him."

Journey. It's kind a title of the film, isn't it? But this, my story, is not that exaggerate. Since I moved back to that house again, I should willingly across the strait many times. Ujung Kamal-Perak. Perak-Ujung Kamal. I went to Surabaya to enter the job applications in some places with a friend. She's really good friend. Really kind. Though some other friends don't like her a bit. She doesn't take it too much. What's the point telling about yourself to people who don't like you? Maybe she thinks so. Whatever it was, this journey really required full patience. And I needed more patience when she said,"be patient, okey".

First destination, we went to Islamic Hospital of Surabaya aka RSI to apply a job. We both applied the staff of HRD position. It's so funny, when we entered the room of human resource management, I found that all seat was full. Then, where the position we were looking for it to be? When we walked out of the room, I was silent and still considering that something must be wrong. A few second later she spoke up,"all seat are full, don't you see? so where's my place to be?". "I don't know. You told me and brought me here." Then we laughed out loud.

Second destination, we went to another hospital which my friend said that they already opened a recruitment. I said myself,"why not? I try". On the way to go there ... kami melihat nama rumah sakit itu dengan sangat jelas dari jauh. Okay, something wrong again. The name was different with we wrote on the application letter before. Syalala. Nama rumah sakitnya terbalik. Selanjutnya kami pontang-panting mencari tempat print. Sesuatu.

The next day;
I applied a job again. Selanjutnya kami ke gedung wanita, melihat jobfair dari disnaker. I was not impressed with the jobs offered. Then, we looked for a nice place to have lunch. Tapi buat makan siang saja kenapa harus ke kampus orang juga? I was a little mind to that idea. My friend's idea. And I'd rather mind to the reality that why it is so hard to refuse something I don't like too much. I'm still questioning myself.

Lunch. Pray. Done. We had to go. "Eh kunci motorku dimana ya be?". Tralala. Kami bolak-balik dari tempat parkir-tempat wudhu-tempat sholat. Nothing. Akhirnya kami mengadu ke penjaga parkir bla..bla..bla. "Aku kok lupaan terus ya. Dua kali stnk hilang. Bpkb hampir hilang. Ini kunci hilang. Jangan-jangan aku alzheimer, be." Meskipun kita mahasiswa psikologi, bukan berarti kita bisa menghubungkan segalanya yang tidak beres dengan gangguan psikologis, cinta. Aku membatin saja. I laughed,"Nggak lah. Lebih hati-hati lagi aja."



Lesson: bahasa inggrisku payah sekali.

Minggu, 14 September 2014

Pendatang Baru

When there is someone leaves, then someone else will come.

Enam tahun penuh tinggal di Bangkalan, empat tahun sisanya sebagian besar di Surabaya. Sudah 10 tahun, Tuhan. Many things happen. Sekarang rumah di Jl. Kusuma Bangsa 21, Kamal itu tinggal 3 orang penghuninya, 2 orang penghuni tetap, dan 1 orang penghuni sementara. Oh, ternyata ada 4, dan mungkin sebentar lagi akan bertambah. Jadi ada 3 penghuni dan 1 peliharaan yang sedang hamil muda. Lolly is pregnant. Kecurigaan orang serumah selama ini ternyata benar. "Itu lho akibatnya kalo keluyuran malem-malem." kata Budheku. Lalu muncul banyak tanda tanya di kepalaku "????". Baiklah, amat sangat tidak penting. Pada intinya, all new comers are welcomed.


Yellowroom.
Lagi ngitung keponakan saya ada berapa. Sepertinya hampir 20. Owh.




Rabu, 20 Agustus 2014

Love you, Lolly

Setahun lalu, pulang-pulang dari Surabaya Mbak Irma menggendong seekor anak kucing abu-abu kecoklatan ke rumah. Sepertinya peranakan kucing Persia dengan kucing lokal. Lolly. Kenapa juga mbak Irma memberi nama itu? Kalau dilafalkan kedengarannya ambigu. Lolly..., Rully... *ugh

But I love you, Lolly. Kamu adalah entertainer sejati di keluarga Juwari. Orang serumah selalu sayang dan memanggil-manggil namamu kalau kesepian & nggak ada kerjaan. Lolly selalu bisa tidur di sudut mana saja yang dia suka.



*numpang di Haqqiya. Rehat sejenak dari detik-detik revisi yang menegangkan.

Selasa, 12 Agustus 2014

Missed

Dalam satu bulan, tiga saudaraku menikah di Syawal yang penuh berkah. Satu, saudari sekandung sendiri, kakakku yang paling cantik (dia pasti seneng banget kalau baca ini). Dua, kakak sepupuku yang paling nyebelin, Pebri, bungsunya Pakpoh Juwari. Tiga, kakak sepupu nan jauh di Magetan, Mbak Naning, sepupu dari bapak. Dan tiga-tiganya aku tidak bisa hadir di acara akad nikahnya. *sedih

Akad nikahnya Mbak Hery berlangsung tanggal 7 Agustus'14 kemarin. Bersamaan dengan sidang skripsiku (oh my...). Sedih banget rasanya. Apalagi ternyata sidangnya diundur besoknya, tanggal 8 (salahku sih, miscommunication). Lalu, akad nikahnya Mas Pebri di Bojonegoro tanggal 11 Agustus kemarin. Rombongan Mas Pebri berangkat minggu malam, karena jadwal akadnya senin pagi. Dan aku sudah dijadwal ikut rombongan senin pagi. Nggak bisa ikut deh. Kalau Mbak Naning ...., aku lupa tepatnya tanggal berapa. Tapi insyaAllah Syawal ini juga. Yang ini jelas nggak bisa ikut, karena aku sudah kembali ke Pulau Garam dan nggak bisa balik ke Magetan sebelum Yudisium tercapai.

I missed those meaningful days effortlessly.
Kebanyakan orang tidak tahu betapa sakralnya prosesi akad nikah itu. Sedang bagi mereka, prosesi resepsilah yang lebih menarik dan lebih penting agaknya. Akad nikah merupakan salah satu perjanjian yang kokoh (mitsaqan ghaliza) yang ditulis di Al-Qur'an, selain perjanjian Allah dengan nabi-nabi Ulul Azmi dan perjanjian Allah dengan bani Isra'il. Akan ada banyak malaikat yang menyaksikan dan mendo'akan. Itulah ruginya tidak bisa menghadiri prosesi akad nikah. Nggak bisa berdo'a bareng-bareng sama malaikat.

Barokallah, mbak-mbak & masbro.

Yellowroom. Di sela waktu revisi.

Senin, 04 Agustus 2014

Cerita Ramadhan

Ramadhan sudah dilalui kemarin. Tidak terasa sudah memasuki Syawal 1435 H. Barokallah.
Ah, sudah banyak yang dilalui ternyata. Tapi yaah, perjuangan belum berakhir. Journey to Yudisium is still waiting to face. Ini Syawal, yuk rehat sejenak dengan cerita sillahturahim idul fitri lalu.

Ramadhan tahun ini pertama kalinya menjadi bagian dari amil zakat. Subhanallah banyak hikmahnya. Pertama kalinya diizinkan bawa motor sendiri ke Surabaya, hehehe. Pertama kalinya ke rumah dosen. Pertama kalinya menjenguk dosen yang sedang sakit. Pertama kalinya melihat orang-orang yang lagi kerja di kantor (please deh). Pertama kalinya menghabiskan sebagian besar Ramadhan di luar rumah. Ramadhan jadi bermanfaat & produktif. MasyaAllah, senang rasanya.

Ramadhan tahun ini, juga pertama kalinya mudik H-2. Sesuatu sekali.
Ramadhan tahun ini, adalah momen yang membahagiakan bagi saudariku tersayang Hery Pujiani. Setelah sekian lama penantian, akhirnya dipertemukan juga dengan seseorang yang sering disebut dalam do'anya. Sosok sholih yang bisa membawanya ke surga, katanya. Alhamdulillah, turut bahagia pula hati ini. Terus tiba-tiba muncul tanya,"Ruly kapan nyusul?". Secepatnya... (?).

Ramadhan tahun ini, seperti biasa, banyak rumah yang dikunjungi untuk sillahturahim. Banyak saudara-saudara yang sudah menikah, punya anak. Banyak sepupu-sepupu yang dulu masih imut-imut, eh tau tau udah gedhe. Kayak adik sendiri, si Idho yang naik kelas 1 SMP, eh sekarang udah setinggi mbaknya aja. Sudah suratan saya jadi yang paling kecil di rumah. Dan herannya orang-orang seperti tak kenal bosan mengungkit-ungkitnya. "Lhoh Ruly kok sek cilik ae nduk." *mesem-mesem (tersenyum pahit, hhehe).

Tidak ada yang paling membahagiakan dibanding melihat saudara yang kita cintai mendapat kebahagiaannya. #apasiih


Kaki gunung Bancak. Magetan, 4 Agustus 2014.

Selasa, 13 Mei 2014

2#Thankyou, Rain

Kau datang sebentar saja. Menguarkan harapan yang hampir saja pudar bersama cahaya Matahari di peringatan kemarau.

Kau datang sebentar saja. Terimakasih. Harapan itu masih ada.



Haqqiya, 13 Mei 2014. Tanda tangan itu tampak biasa saja. Tapi hatiku terlanjur senang dibuatnya. (ceritanya habis acc revisi proposal, hhe). Dan janganlah engkau berputus asa dari rahmat-Nya.

Senin, 12 Mei 2014

Vanilla

“Sashaa, ayo belajar menulis yuk. Kalau Sasha males gitu, Mbak Bekti pulang aja deh.”
“Yaudah, Mbak Bekti pulang aja. Saya mau tidur. Hehehe.” Jleb!


“Mbak Bekti nggak mau ngelesin lagi lho, kalau Sasha nggak mau baca, nggak mau nulis.”
“Nanti kalau Mbak Bekti nggak ngelesi, Mbak Bekti nggak dapat uang lho.” Jleb! Jleb! Jleb!


Sambil menyeruput teh hangat buatan Mamanya Sasha.
“Mbak Bekti kok sukanya minum yang manis-manis sih.”
“Iya. Mbak Bekti suka minum yang manis-manis, Sha.” Jawabku polos dan jujur.
“Kalo aku sukanya minum air putih mbak. Sehat.” Jawab Sasha innocent.


“Mbak Bekti itu orang Jawa atau orang Islam?”
“Mbak Bekti nggak punya rumah kan. Soalnya itu rumahnya orangtuanya Mbak Bekti.”
“Mbak Bekti, mana ada ikan yang warnanya gini. Ininya (sirip) kuning, ininya (badan) merah, terus ininya (ekor) hijau. Nggak ada kan?”
“Mbak Bekti, ini apa sih? Harus tahu lho ya.”

Namanya Vanilla Tasha Suwarto, 5 th. Setiap Senin-Jum’at pagi ia bermain & belajar bersama Ustadzah Izza di kelas A-3, TK-IT At-Taqwa Surabaya. Putri bungsu dari keluarga Suwarto ini biasa dipanggil “Sasha”. Setiap Senin, Selasa, dan Kamis, saya datang ke rumahnya untuk menemaninya belajar membaca dan menulis. Tapi sekarang tidak lagi. Akhir April kemarin, saya memutuskan rutinitas tiap Senin-Selasa-Kamis itu. Alasannya sentimentil sekali. Yah soal perasaan. Perasaan saya pada skripsi saya yang manja minta ampun. *padahal ...

Sebenarnya ada sedikit rasa sayang meninggalkan Sasha belajar sendiri alias mengembalikan tanggung jawab Bu Ratna kembali as her mother. Dia itu lucu, menggemaskan, pintar dan kritis di usianya. She was my top enternainer on my Monday, Tuesday, & Thursday. Atau mungkin benar kata Sasha,”kalau Mbak Bekti nggak ngelesi, Mbak Bekti nggak dapet uang lho.” Saya tidak kuat menahan tawa mendengarnya. Entah dari mana gadis kecil ini dapat pemahaman seperti itu.

Sudah pernah mendengar ini kan? Bahwa Allah mengajarkan kita sesuatu hal melalui siapa saja dan apa saja. Tidak kenal usia, tidak kenal status. Bahkan melalui gadis kecil yang masih duduk di bangku TK A (Nol kecil). Melalui pernyataan-pernyataan lucu Sasha, seringkali saya tercenung sendiri ketika ngelesi. Meskipun lebih banyak tawa saya yang meledak karenanya.

Hikmah hidup itu ada dimana-mana di sekeliling kita. Jika kita peka. Jika kita mau melapangkan hati untuk menerimanya. Terus belajar, Bebe.



30 April 2014. Goodbye Days to Sasha. Miss you :*

Kamis, 27 Maret 2014

Ceritanya Panjang

Karena kamu, Saudariku

Ketika masih anak-anak, aku pernah membayangkan bagaimana potret diriku bila dewasa nanti. Aku memimpikan diriku menjadi wanita muda yang anggun dan cerdas. Anggun, dilihat dari kacamataku waktu itu, adalah berpenampilan kasual tapi menarik, punya inner beauty yang selalu bisa membuat setiap mata terkagum, dan tampak cerdas. Bahkan aku merancang style berpakaianku sendiri di dalam imajiku. Seperti aku memiliki rambut hitam sebahu yang terurai, memakai sweater coklat tua, bercelana levis agak longgar (jujur saja, dari kecil aku paling benci dengan celana ketat yang sangat ketat), di lengan kiriku menggantung jaket biru, sedang tangan kananku menyeret koper kecil. Aku (membayangkan) baru saja pulang dari Australia, Korea Selatan, Turki, Belanda, Jerman atau Inggris, entahlah, yang jelas aku pulang bersama mimpiku.

Selalu begitu yang ada dalam kepalaku hingga aku menjelma remaja 14 tahun. Keluarga kami adalah keluarga yang biasa, terlebih soal keislamannya. Bapak dan Ibu tidak pernah menyuruh kami, aku dan kakak perempuanku, untuk memakai jilbab. Mereka juga bukan orangtua yang bermimpi anaknya akan masuk pesantren atau sekolah islam. Mereka hanya mengajarkan kami untuk tidak meninggalkan sholat, rajin mengaji dan rajin belajar. Memakai jilbab dan berbaju muslim hanya kami lakukan ketika hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Ah, juga setiap jum’at sekolahku mewajibkan siswanya memakai pakaian muslim. Sekolah Dasar Negeri favorit di desaku.

Bapak sudah kembali pada-Nya lebih dulu ketika aku berusia 8 tahun. Sepeninggal Bapak, hidupku dan (tentunya) juga hidup Ibu, Mbak Hery, serta dua adik laki-lakiku seperti musim pancaroba yang panjang. Semuanya menjadi lebih sulit, termasuk untuk biaya sekolah kami, anak-anak Ibu. Akhirnya, aku harus ikut Pak Dhe dan memulai hijrah pertamaku usai lulus SD. Sejak saat itu, biaya sekolah dan hidupku adalah tanggung jawab Pak Dhe, juga Bulek Ulis yang rumahnya tidak jauh dari rumah Pak Dhe, di Bangkalan, Madura.

Selama memulai hidup di Madura, gambaran diriku ketika dewasa juga masih sama, tidak berubah. Sebagai penanggungjawab, Pak Dhe juga tidak pernah menyuruhku mengenakan jilbab ataupun berencana mendaftarkanku ke sekolah Islam. Keluarga Pak Dhe sama biasanya, bukanlah keluarga yang patuh syariat. Karena pemahaman kami tentang Islam adalah seputar sholat lima waktu, mengaji, puasa, membayar zakat, dan berhaji bila mampu. Teman-temanku, ada beberapa yang berjilbab. Tapi aku tidak pernah bertanya mengapa mereka berjilbab, paling-paling karena disuruh orangtua, pikirku.

Aku 14 tahun, Mbak Hery 18 tahun. Aku naik ke kelas 9 di SMP favorit di kecamatan tempat Pak Dhe tinggal, Mbak Hery naik ke kelas 3 SMA favorit di kotaku dulu. SMA yang juga selalu menjadi SMA favoritku, sebelum akhirnya hidupku harus berlanjut dan berpindah ke seberang pulau bersama Pakdhe dan Budhe, juga Bulek. Usia kami terpaut 4 tahun, dan jarak kami terpaut ratusan kilometer. Tetapi setiap liburan akhir semester dan lebaran, kami selalu berkumpul di kota kecil kami, di Magetan. Liburan semester tahun 2006, tiba-tiba saja Mbak Hery punya seragam lengan panjang, rok panjang dan jilbab menjuntai menutupi dada di tahun terakhirnya di SMA. Mbak Hery sudah mantap berjilbab. Ketika masa SMA-nya berakhir satu tahun lagi, dan tidak menunggu pendaftaran kuliah. Nanggung banget, pikirku. Tetapi Mbak Hery, dialah yang membuatku jadi berpikir, untuk pertama kali, ingin memakai jilbab. Alasannya, karena dia adalah kakak, dan aku adik.

Ketika aku pulang, jika ia tak sibuk, Mbak Hery selalu mengajakku jalan-jalan agar tak menjadi gadis pingitan di rumah sendiri. Entah sekedar berkeliling alun-alun kota atau mencari tempat makan yang enak untuk berwisata kuliner. Hingga tiba-tiba suatu kali, Mbak Hery jadi lebih sering mengajakku ke sekolahnya (SMA favorit yang kulupakan) atau acara buka bersama dengan teman-teman satu ekstrakurikulernya. Sebagian besar teman-teman Mbak Hery berjilbab rapi dan lebar, seringkali membuatku membatin ‘wah’ dan ‘wow’. Dan aku pun heran bukan main, ketika acara buka bersama, tempat laki-laki dan perempuan harus terpisah. Berbicara dengan lawan jenis pun harus menunduk-nunduk. Apa sih yang mereka lakukan? Inikah yang membuat Mbak Hery berubah ‘habis-habisan’. Kata ‘habis-habisan’ itu tentu tidak berlebihan, karena itu kenyataan. Aku adalah korban bullying-nya selama 12 tahun dan korban sifat temperamental-nya selama 12 tahun pula. Tiba-tiba saja dia menjadi lebih sabar, berbicara lemah lembut, dan mati-matian menahan amarah ketika aku mulai menjengkelkan.

Tahun 2007, dua tahun setelah Mbak Hery berjilbab, muncul hasrat dalam hatiku untuk berjilbab. Sebenarnya sudah satu tahun hasrat itu kupendam, tepatnya setelah peristiwa ‘terheran-heran’ dan ‘habis-habisan’ itu. Namun, aku lebih memilih untuk menunggu waktu yang tepat, seperti saat pendaftaran siswa baru di SMA waktu itu. Tetapi nyatanya, Mbak Hery justru belum mengizinkan ketika yang lain setuju-setuju saja. Kira-kira beginilah ceritanya..
“Mbaak, masuk SMA nanti aku pengen pakai jilbab.”
“Kenapa?” Selidik pemilik suara dari seberang telepon, suara Mbak Hery. Aku menghela napas. Kenapa malah tanya ‘kenapa’?
“Biar nanti adaptasinya nggak terlalu susah, dari nggak pakai jilbab ke pakai jilbab.” Bukan itu maksudku sebenarnya, walaupun itu juga menjadi bahan pertimbanganku sebelum memakai jilbab. Perubahan yang dilakukan pada masa perubahan (baca: peralihan dari SMP ke SMA), maka kelihatannya tidak akan terlalu menonjol bukan. Akan lebih mudah diterima, pikirku begitu. But after all, aku ingin menutup aurat seperti yang sering digaungkan oleh salah satu majalah Islami untuk remaja itu.
“Udah bilang ke Budhe sama Bulek? Gimana responnya?” Jadi untuk sementara, saat itu restuku ada pada dua orang baik hati ini sebagai pengganti Ibu.
“Mereka sih setuju-setuju aja mbak.”
“Hmmm…. Nggak usah dulu ya. Pakai jilbab itu nggak boleh sembarangan lho. Ada beban moral yang harus kamu pertanggungjawabkan nanti. Kalau kamu belum siap, lebih baik ditunda aja ya.” Mbak  Hery menuturkan padaku dengan sangat hati-hati. Meskipun sudah berbalut jilbab bak bidadari bumi, bagiku ia tetaplah makhluk paling menakutkan di rumah kami. Aku mengangguk pasrah dan kecewa dari ujung Indonesia yang lain.
“Oh, gitu. Yaudah mbak.” Begitulah kira-kira aku menyuarakan kekecewaanku waktu itu.

Oh ya Allah, ini bukan perihal siap atau tidak siap bagiku. Aku hanya ingin pakai jilbab, itu saja. Dan yang ada dalam pikiranku saat itu bukanlah masalah tentang tanggung jawab, lebih-lebih beban moral. Aku hanya ingin pakai jilbab, seperti mbak Hery… Saudariku satu-satunya itu mungkin khawatir jika keinginanku untuk pakai jilbab hanyalah sekedar ikut-ikutan saja.

Dalam selang waktu yang lama sekali kupikirkan, mungkin Allah pun belum mengizinkan. Ada banyak hal yang belum aku ketahui. Tentang jilbab, tentang menutup aurat, tentang agamaku, tentang Islam.

Mbak Hery belajar tentang Islam lebih banyak dari kegiatan ekstrakurikuler yang diikutinya di SMA favorit, Rohis (Kerohanian Islam). Semenjak ikut Rohis, ia sering membeli majalah Annida, salah satu majalah Islami untuk remaja, yang akhirnya aku ikut-ikutan membaca. Ia membeli buku-buku Islami yang setiap liburan semester kugondol ke seberang pulau. Aku sedikit kecewa karena di SMA-ku tidak ada ekstrakurikuler kerohanian Islam.

Masa-masa SMA, bagaimanapun, sangat menyenangkan. Sebagian besar sahabat dan teman-temanku tidak berjilbab. Sebagian besar dari mereka yang berjilbab pun seringkali melepasnya jika di luar sekolah. Meskipun belum berjilbab, aku menyayangkan hal itu. Sebagian besar dari mereka yang berjilbab masing-masing juga punya pacar, berboncengan ketika pulang sekolah, atau malam mingguan bersama. Meskipun belum pakai jilbab, ada banyak tanya yang menghantuiku ‘kenapa mereka seperti itu’. Mungkin saja mereka belum tahu, sama sepertiku yang masih belum tahu apa-apa lebih banyak. Coba saja mereka membaca Annida, yang selalu membuat hatiku mantap untuk berjilbab. Ada bagian dari hatiku yang selalu mengatakan, “suatu saat nanti kamu harus berjilbab”.
***
Masa itu pun tiba, lulus dari SMA aku memutuskan untuk memakai jilbab. Mbak Hery tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, kecuali mendukungku. Masih jelas dalam ingatanku, jilbab pertama yang kupakai waktu itu adalah jilbab instan berwarna putih. Kupakai saat menjalani ujian SNMPTN dengan baju lengan panjang coklat dan celana jins longgar. Alhamdulillah, mungkin inilah berkah dari berjilbab, aku diterima di salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya. Sebelum registrasi pun, aku membuat foto pertamaku memakai jilbab. Foto itu selama bersemester-semester terpampang di kartu mahasiswaku. Dan aku suka itu.

Memakai jilbab, Alhamdulillah sudah terlaksana. Tidak berhenti sampai di situ, aku pun mengikuti UKM kerohanian Islam untuk memperdalam pemahamanku tentang Islam. Dari seorang teman di kampus juga, aku bertemu dengan saudara-saudara yang luar biasa dalam sebuah majelis kecil setiap pekan. Kami melingkar, berbagi ilmu tentang Islam dan mengikat persaudaraan seiman. Ya Allah, segala puji bagi-Mu yang telah mempertemukanku dengan orang-orang yang luar biasa. Kebahagiaan itu tak bisa kubendung, begitu tiada tara kurasakan.

Namun setiap hamba akan selalu ada ujiannya masing-masing. Semakin aku mengerti, semakin aku ingin sedapat mungkin menjalankan perintah-Nya dan sunnah Rasul-Nya dengan baik. Aku ingin berjilbab rapi, menjaga diri dan tetap istiqomah. Seperti berusaha tetap berjilbab ketika keluar rumah, menjaga diri dari yang bukan mahromnya. Itulah ujiannya, Bu Dhe seringkali marah karena bila menyuruhku membeli sesuatu di toko, aku jadi lebih lama karena mesti berjilbab dulu. Ini berlangsung cukup lama sekali, selama dua tahun selalu seperti itu. Aku hanya bisa menahan diri dan bersabar ketika harus mendengarkan kemarahannya. Meski tidak jarang juga, hal ini membuatku menangis. Kukatakan pada diri sendiri bahwa ini hanyalah soal pembiasaan. Aku memikirkan bagaimana caranya agar Bu Dhe tidak marah lagi. Menjelaskan ayat-ayat tentang menutup aurat, ah yang benar saja, mungkin aku akan dianggap teroris. Aku menyiasati diri untuk memakai jilbab setelah mandi dan terus memakainya sampai menjelang tidur. Maka ketika Bu Dhe meminta tolong beli sesuatu, aku tinggal melesat saja. Alhamdulillah, seiring waktu Bu Dhe mulai memaklumi dan menerima.

Aku belum lama memakai jilbab. Jilbab dan baju-baju syar’iku tak banyak. Namun Allah membukakan pintu rizqi-Nya dengan adanya lowongan guru les privat di sekitar kampus. Sekarang semuanya terasa mudah.

Ketika ada keinginan berjilbab tak segera terpenuhi, mungkin masih ada yang ingin Allah sampaikan. Mungkin Allah ingin kita memahami terlebih dahulu hakikat kita berjilbab. Dan Allah-lah yang Maha Mengetahui kapan waktu itu tiba. Sebuah hadits pernah menyebutkan, “Siapa yang Allah inginkan kebaikan padanya. Dia pahamkan dirinya tentang agama.”

28 Februari 2014
Cerita ini saya kirimkan ke lomba "Cerita Jilbab" yang diadakan oleh FSLDK. Berhubung tidak ada konfirmasi dari panitia, jadi saya posting saja di sini.