Sabtu, 31 Januari 2015

Berkaca-kaca

"Waduh bu'... tadi kan saya sudah bilang untuk memasukkan biaya payroll per karyawannya di kuitansi kami."
"Oh iya pak. Maaf saya lupa. Bagaimana dong pak?"

Deg. Tiba-tiba saja aku terdiam di depan pegawai bank syariah tertentu itu. Rasanya ada yang mau keluar dari mataku. Aku tahu aku sudah tertangkap basah. Pegawai bank itu jelas melihat sesuatu yang menggenang di kantung mataku. Sontak saja aku menunduk, mencari-cari ponselku, menekan-nekan layar ponsel, mencari-cari nama dua orang di kontakku. Pertama, manajerku. Kedua, teman kerja yang kenal dan satu almamater dengan Kepala Cabang bank tersebut.
"Berdo'a saja agar tidak dipecat atau kehilangan nasabah." Gerutuku dalam hati. Mendramatisir perasaan.

Tut..tut..tut.
Ternyata dua-duanya tidak bisa dihubungi. Sibuk.
Meski begitu, aku tetap saja menekan-nekan layar ponsel. Sekuat tenaga menahan sesuatu yang ingin buncah. Karena dua jam sebelumnya, aku duduk di kursi yang kurang lebih sama.

"Kemarin kami sudah menyampaikan ke orang yang sebelumnya ke sini." Itu manajer gue. "Bahwa berkas yang diperlukan adalah ini...ini...dan ini..bu'."
"Oh.. begitu ya pak. Saya belum tahu."
"Ibu baru ya di LMI?" Ih, tahu aja.
"Iya pak. Kalau mau mencairkan cek dari bank M di sini nggak bisa ya ?"
"Yaa bisa pakai kliring. Tapi prosesnya lama, bisa 2 sampai 3 hari." Aku menelan ludah.
"Jadi gimana?"
"Bisa dicairkan ke bank M dulu.. kemudian setor tunai ke sini bisa bu'."

Ini masalah kesejahteraan umat. Harus segera diselesaikan dan tidak bisa menunggu terlalu lama. Dampaknya bisa sistemik #halah. Lalu, aku berangkat ke bank M. Jarak bank syariah ke bank M lumayan menguras energi dan menyerap polusi Surabaya (meskipun sudah pakai masker). Apalagi jumlah dana yang dicairkan nggak sedikit. Sempat syok ketika si teller menyodorkan amplop coklat tebal banget ke aku. Pikiranku saat itu macam-macam. Kalau ada yang merampok bagaimana? Uangnya hilang, dan aku harus menggantinya. Butuh waktu berapa lama untuk melunasinya? Itu setara dengan gajiku selama 3 tahun, men.
Dari bank M aku menuju bank syariah tertentu untuk menyetorkan uang. Kemudian kembali ke kantor untuk mengambil berkas yang tertinggal. Dan... kembali ke percakapan awal tadi.

"Duh.. gimana ya bu? Tadi kan sudah saya bilang... Maksudnya daripada bolak-balik lagi.."
Haa.. balik lagi?! T.T
"Kalau dicoret saja gimana pak, diganti dengan tambahan nominal pembayaran tadi?"
"Yaa bisa sih bu. Tapi harus orang yang tanda tangan ini yang tanda tangan lagi di sini.." Begitulah aturan akuntansi. Pfft. Masa iya aku minta atasanku ke sini hanya untuk tanda tangan. #tungtung.. memangnya orangnya mau? Enggak.. >.<
"Ee.. sebentar ya bu' saya tanyakan dulu." Aku hanya mengangguk. Sepertinya si pegawai itu mulai iba padaku, atau mungkin takut kehilangan nasabah. Tak berselang lama dia kembali.
"Baik. Begini saja bu', biaya payroll per karyawannya dibayarkan tunai saja. Nanti mengisi form dulu ya bu'. Akan dibantu sama Mbak Cici (bukan nama sebenarnya)."
"Iya." Jawabku sok tegar, masih dengan mata berkaca-kaca.

15 menit kemudian aku keluar dari bank. Menghela napas panjang-panjang. Hari itu cukup melelahkan. Juga maluuu sekali rasanya. Rasanya tidak ingin kembali ke sana... tapi bulan depan harus ke bank itu lagii. Hiks.


26012015

#LMI semoga selalu diberkahi

Senin, 26 Januari 2015

Introvert HR

Introvert HR. Tiba-tiba saja saya melabeli diri saya dengan istilah itu. Kenapa gerangan? Karena yang ada dalam bayangan saya, seorang HR (human resource) itu kudu lincah, loncat sana, loncat sini, observasi karyawan, menjalin hubungan interpersonal dengan banyak manusia dalam suatu perusahaan, yaah begitulah. Dilihat dari kualifikasinya yang biasa dicantumkan di job-advertise saja.. rasanya.. aduuh, bukan gue banget. HRD? Iiih, ngapain sih kerjaannya. Itu saya ketika menempuh kuliah S1 Psikologi di Unesa.

Fresh graduated. No experience. Lalu tiba-tiba nyemplung di dunia ke-HR-an adalah sesuatu yang membuat saya frustasi (mungkin). Di sebuah lembaga yang sedang develop, mencoba membangun identitas diri, mencoba melebarkan sayap ke kancah dunia, ... oh Rabbi, kuatkan hamba-Mu.

Oke, baiklah. Ini memang sedikit banyak melelahkan. Namun demikian, terimakasih Allah.. sudah dipertemukan dengan orang-orang yang luar biasa di sini, sudah diajarkan ilmu yang insyaAllah bermanfaat. Terimakasih.. sudah mengajariku untuk menjadi lebih kuat dengan cara-Mu.



#LMI semoga selalu diberkahi


Hey Psikologi !

Sudahlah.. aku menyerah ya Allah. Engkau memang yang paling tahu apa yang kubutuhkan. Atas jalan yang telah Engkau pilihkan, aku tak berani mendebat-Mu. Aku tak berhak... bahkan atas hidupku sendiri, Engkaulah yang menggenggam jiwaku.
It's been two months. Saya bekerja sebagai staf HR di sebuah lembaga. Well, lembaga ya.. bukan perusahaan guedhe kayak tempat teman-teman saya kerja. Tapi saya sudah dibuat pusing nggak karuan. Uring-uringan sendiri sama diri sendiri. (karena saya nggak mungkin uring-uringan di depan teman-teman kantor yang sholih & sholihah).. Astaghfirullah.

It's unbelievable. Terkadang saya suka bertanya-tanya sendiri,"kok aku bisa sampek sini ya? gimana ceritanya?" Bukannya apa.. hanya saja bidang pekerjaan saya sekarang adalah bidang yang paling saya hindari dulu ketika kuliah. "Psikologi Industri & Organisasi?" "Hohoho, nggak deh. Bukan gue banget." Sewaktu ada mata kuliah pilihan, mata kuliah yang tak pernah saya lirik adalah semua mata kuliah yang berhubungan dengan PIO. Sudah seperti alergi begitu. #lebay

By the way, Psikologi itu ranahnya luas banget lhoh.. ada bidang pendidikan bagi yang suka dengan perihal didik-mendidik, ada psikologi sosial bagi yang punya jiwa sosial & suka blusukan ke masyarakat, ada lagi psikologi perkembangan bagi yang antusias dengan anak-anak kita yang berkebutuhan khusus, ada juga psikologi klinis bagi yang berminat dengan kejiwaan, and then.. ada psikologi industri & organisasi bagi yang suka dengan dunia karir di perusahaan. Psikologi itu keren deh pokoknya. Ilmunya komplit dan hampir digunakan di seluruh aspek kehidupan. Karena pada hakikatnya, subjek dari Psikologi itu sendiri adalah manusia. Dan siapakah manusia? Mereka yang menjalankan roda kehidupan di Bumi ini. Maka ada yang mengatakan, dimana ada manusia, di situlah Psikologi berperan. Asli keren kan. Jurusan yang sempat saya ragukan dan membuat saya dirundung kegalauan ini.. ternyata bisa membuat saya jatuh cinta pada akhirnya. Saya masih ingat.. saya pernah membuat postingan seputar pilihan saya mengambil kuliah Psikologi di Menunggu Kujatuh Cinta.

Saya sempat berpikir, mungkin suatu hari nanti saya akan meninggalkan ke-Psikologi-an saya setelah selesai kuliah. Tapii, saya adalah tipikal orang yang susah move on dan maunya lurus-lurus aja, bukan risk-taker banget lah. Jadi.. saya bertekad mencari pekerjaan yang sebisa mungkin.. masih linier dengan jurusan saya. Sudah susah-susah kuliah Psikologi 4 tahun, terus kalau ilmunya nggak kepake kan.. mubadziir. Hehe.

Begitulah singkatnya.. sehingga saya berada di sini sekarang. Di sebuah tempat yang sudah Allah pilihkan.. Tempat kerja yang something banget pokoknya. Allah is the Best.


#LMI semoga selalu diberkahi

Senin, 08 Desember 2014

Very Kind Stranger

Apa sih yang ada di benak kita jika bertemu dengan orang baru? Beragam tanya dan rasa penasaran tentu saja. Siapa namanya, pekerjaannya apa, domisilinya mana, anything. Alih-alih kita hanya ingin memastikan apakah ia orang yang baik-baik atau sebaliknya, kita cenderung menjaga jarak sebagai bentuk pertahanan diri. Saya adalah termasuk orang yang cukup defensif jika bertemu dengan orang baru atau orang asing. Maklumlah, bagian introvert dari diri saya memang agak berlebihan.

Meskipun begitu, saya pernah bertemu dengan seseorang, teman temannya saya sewaktu kuliah dulu. Jadi saya punya teman, lalu teman saya punya teman juga, kemudian teman saya mengenalkan temannya itu pada saya (apa siih). Ceritanya kita berkenalan via sms seperti kopi darat begitu (eh bukan, itu chatting). Kemudian kita janjian untuk ketemuan (ciee..so sweet) di kontrakan saya. Ternyataa... dia adalah kakak letting satu fakutas tapi beda jurusan. Namanya Mbak Wid. Hari itu dia ada seminar proposal skripsi, jadi dia minta ditemani dan minta tolong yang lain-lain. Baru ketemu udah minta macam-macam. Tapi karena saya baik hati dan rajin menabung, saya bersedia membantu dengan senang hati. Enggak lah ya, tapi lebih karena kita saudara dari nabi Adam, hehehe. Seharian saya diajak wira-wiri dari kontrakan ke tambal ban (karena tiba-tiba ban motor Mbak Wid bocor, subhanaAllah cobaannya), ke kampus, ke resto beli konsumsi, ke kampus lagi, ke resto yang lain (karena ternyata pesanannya nggak sesuai), ke kampus lagi, dan ke kontrakan, lalu kami berpisah begitu saja (alah) tanpa Mbak Wid lupa memberikan pesanan yang nggak sesuai tadi buat saya. Well, kami baru pertama bertemu, tapi rasanya seperti sudah kenal lama. Mungkin ruh kami pernah bertemu sebelum kami dilahirkan ke dunia. Hehe.

Begitu pula dengan cerita 9 Desember kemarin, itu adalah pertemuan kedua saya dengan Mbak Vi.  Pada pertemuan pertama, kami hanya saling melempar senyum tanpa ada percakapan yang berarti dan berlalu begitu saja. Tapi hari itu kami melakukan perjalanan bersama seharian. Setengah hari kami menghabiskan waktu bersama menelusuri sawah-sawah di Pacet. Seperempat harinya Mbak Vi minta ditemani makan, ke rumahnya Mbak Shinta Yudhisia, dan ikut mengantar tamunya Mbak Shinta ke terminal Bungrasih. Lucu memang. Kami bertamu, kemudian kami ikut mengantar tamu yang lain (hihi).

They are strangers, but very kind.

Minggu, 07 Desember 2014

Rinai

Rabu, 3 Desember 2014 kemarin adalah hari ke-9 saya bekerja di sebuah lembaga zakat di Surabaya. Sehari sebelumnya saya terus saja memikirkan "apa ya yang harus saya kerjakan di kantor besok?". Karena manajer saya yang super baik & super sabar itu disibukkan oleh persiapan acara musyawarah kerja dan pendaftaran LAZ kami menjadi LAZNAS, saya jadi merasa sedikit terabaikan (uhuk..uhuk). Meaning, saya merasa belum tuntas di-briefing tentang pekerjaan saya. Maka bingunglah saya, rasanya ingin kabur saja dari kantor. Hehe. Sehabis sholat saya hanya berdo'a,"ya Allah gembirakanlah hatiku hari ini dan buatlah mudah urusanku hari ini." Begitulah tempat pelarian saya kalau sedang tidak enak hati. Mengadu pada Maha pemilik hati.

Dan siapakah yang lebih mengerti hatimu kecuali Allah? Pagi itu saya bergegas ke gedung sebelah untuk ikut Morning Motivation yang biasa dilaksanakan setiap pagi di lembaga tempat saya bekerja. Tiba-tiba saja manajer saya yang superbaik itu memanggil saya,"mbak Bekti bisa ikut ke Pacet buat survey tempat acara musker (musyawarah kerja) nanti?". "Ooh, kapan pak?" (pura-pura tanya, padahal udah tahu kalau hari ini). "Hari ini mbak." "Iya pak, bisa..bisa. Jam berapa pak?" (senang luar biasa). "Sekarang ini mau siap-siap mbak." (asyik). Allah Maha Mendengar.

Kami berlima di dalam mobil. Pak Nan (staf operasional andalan kantor), Pak E (manajer saya), mbak Cit (konsultan HRD kantor), saya, dan mbak Vi (alumni karyawan kantor). Sepanjang perjalanan semua orang terlibat pembicaraan tentang banyak hal, kecuali saya yang cuma mendengarkan, senyam-senyum dan ikut tertawa saja. Aslinya mah saya nggak ngerti mereka bicara soal apa, hehe. Sampai pada persoalan kantor yang kabarnya berencana mengadakan event dan membuka cabang di Hongkong. Manajer saya meminta Mbak Cit untuk ikut sebagai konselor bagi TKI di Hongkong yang jumlahnya kurang lebih 150.000 orang dan bla...bla...bla... Mbak Vi, sang alumni kantor, spontan mencak-mencak antusias. "Aku ikut. Aku ikut. Meskipun nggak dibayarin sama kantor, aku berangkat sendiri juga nggak papa kok." Loyal banget deh mbak satu ini. Lalu dia meneruskan,"Nanti di sana aku jadi kayak Rinai di novelnya Mbak Shinta Yudisia juga nggak papa. Kalau dalam novelnya kan, Rinai itu bukan siapa-siapa dan nggak terlibat dalam hal apapun.Tapi dia selalu ada dalam cerita. Aku jadi kayak gitu nggak papa deh."

Rinai. Aku juga mau jadi Rinai. Bahkan, sepertinya sayalah Rinai di dalam mobil itu.