"Oh iya pak. Maaf saya lupa. Bagaimana dong pak?"
Deg. Tiba-tiba saja aku terdiam di depan pegawai bank syariah tertentu itu. Rasanya ada yang mau keluar dari mataku. Aku tahu aku sudah tertangkap basah. Pegawai bank itu jelas melihat sesuatu yang menggenang di kantung mataku. Sontak saja aku menunduk, mencari-cari ponselku, menekan-nekan layar ponsel, mencari-cari nama dua orang di kontakku. Pertama, manajerku. Kedua, teman kerja yang kenal dan satu almamater dengan Kepala Cabang bank tersebut.
"Berdo'a saja agar tidak dipecat atau kehilangan nasabah." Gerutuku dalam hati. Mendramatisir perasaan.
Tut..tut..tut.
Ternyata dua-duanya tidak bisa dihubungi. Sibuk.
Meski begitu, aku tetap saja menekan-nekan layar ponsel. Sekuat tenaga menahan sesuatu yang ingin buncah. Karena dua jam sebelumnya, aku duduk di kursi yang kurang lebih sama.
"Kemarin kami sudah menyampaikan ke orang yang sebelumnya ke sini." Itu manajer gue. "Bahwa berkas yang diperlukan adalah ini...ini...dan ini..bu'."
"Oh.. begitu ya pak. Saya belum tahu."
"Ibu baru ya di LMI?" Ih, tahu aja.
"Iya pak. Kalau mau mencairkan cek dari bank M di sini nggak bisa ya ?"
"Yaa bisa pakai kliring. Tapi prosesnya lama, bisa 2 sampai 3 hari." Aku menelan ludah.
"Jadi gimana?"
"Bisa dicairkan ke bank M dulu.. kemudian setor tunai ke sini bisa bu'."
Ini masalah kesejahteraan umat. Harus segera diselesaikan dan tidak bisa menunggu terlalu lama. Dampaknya bisa sistemik #halah. Lalu, aku berangkat ke bank M. Jarak bank syariah ke bank M lumayan menguras energi dan menyerap polusi Surabaya (meskipun sudah pakai masker). Apalagi jumlah dana yang dicairkan nggak sedikit. Sempat syok ketika si teller menyodorkan amplop coklat tebal banget ke aku. Pikiranku saat itu macam-macam. Kalau ada yang merampok bagaimana? Uangnya hilang, dan aku harus menggantinya. Butuh waktu berapa lama untuk melunasinya? Itu setara dengan gajiku selama 3 tahun, men.
Dari bank M aku menuju bank syariah tertentu untuk menyetorkan uang. Kemudian kembali ke kantor untuk mengambil berkas yang tertinggal. Dan... kembali ke percakapan awal tadi.
"Duh.. gimana ya bu? Tadi kan sudah saya bilang... Maksudnya daripada bolak-balik lagi.."
Haa.. balik lagi?! T.T
"Kalau dicoret saja gimana pak, diganti dengan tambahan nominal pembayaran tadi?"
"Yaa bisa sih bu. Tapi harus orang yang tanda tangan ini yang tanda tangan lagi di sini.." Begitulah aturan akuntansi. Pfft. Masa iya aku minta atasanku ke sini hanya untuk tanda tangan. #tungtung.. memangnya orangnya mau? Enggak.. >.<
"Ee.. sebentar ya bu' saya tanyakan dulu." Aku hanya mengangguk. Sepertinya si pegawai itu mulai iba padaku, atau mungkin takut kehilangan nasabah. Tak berselang lama dia kembali.
"Baik. Begini saja bu', biaya payroll per karyawannya dibayarkan tunai saja. Nanti mengisi form dulu ya bu'. Akan dibantu sama Mbak Cici (bukan nama sebenarnya)."
"Iya." Jawabku sok tegar, masih dengan mata berkaca-kaca.
15 menit kemudian aku keluar dari bank. Menghela napas panjang-panjang. Hari itu cukup melelahkan. Juga maluuu sekali rasanya. Rasanya tidak ingin kembali ke sana... tapi bulan depan harus ke bank itu lagii. Hiks.
26012015
#LMI semoga selalu diberkahi