Senin, 08 Desember 2014

Very Kind Stranger

Apa sih yang ada di benak kita jika bertemu dengan orang baru? Beragam tanya dan rasa penasaran tentu saja. Siapa namanya, pekerjaannya apa, domisilinya mana, anything. Alih-alih kita hanya ingin memastikan apakah ia orang yang baik-baik atau sebaliknya, kita cenderung menjaga jarak sebagai bentuk pertahanan diri. Saya adalah termasuk orang yang cukup defensif jika bertemu dengan orang baru atau orang asing. Maklumlah, bagian introvert dari diri saya memang agak berlebihan.

Meskipun begitu, saya pernah bertemu dengan seseorang, teman temannya saya sewaktu kuliah dulu. Jadi saya punya teman, lalu teman saya punya teman juga, kemudian teman saya mengenalkan temannya itu pada saya (apa siih). Ceritanya kita berkenalan via sms seperti kopi darat begitu (eh bukan, itu chatting). Kemudian kita janjian untuk ketemuan (ciee..so sweet) di kontrakan saya. Ternyataa... dia adalah kakak letting satu fakutas tapi beda jurusan. Namanya Mbak Wid. Hari itu dia ada seminar proposal skripsi, jadi dia minta ditemani dan minta tolong yang lain-lain. Baru ketemu udah minta macam-macam. Tapi karena saya baik hati dan rajin menabung, saya bersedia membantu dengan senang hati. Enggak lah ya, tapi lebih karena kita saudara dari nabi Adam, hehehe. Seharian saya diajak wira-wiri dari kontrakan ke tambal ban (karena tiba-tiba ban motor Mbak Wid bocor, subhanaAllah cobaannya), ke kampus, ke resto beli konsumsi, ke kampus lagi, ke resto yang lain (karena ternyata pesanannya nggak sesuai), ke kampus lagi, dan ke kontrakan, lalu kami berpisah begitu saja (alah) tanpa Mbak Wid lupa memberikan pesanan yang nggak sesuai tadi buat saya. Well, kami baru pertama bertemu, tapi rasanya seperti sudah kenal lama. Mungkin ruh kami pernah bertemu sebelum kami dilahirkan ke dunia. Hehe.

Begitu pula dengan cerita 9 Desember kemarin, itu adalah pertemuan kedua saya dengan Mbak Vi.  Pada pertemuan pertama, kami hanya saling melempar senyum tanpa ada percakapan yang berarti dan berlalu begitu saja. Tapi hari itu kami melakukan perjalanan bersama seharian. Setengah hari kami menghabiskan waktu bersama menelusuri sawah-sawah di Pacet. Seperempat harinya Mbak Vi minta ditemani makan, ke rumahnya Mbak Shinta Yudhisia, dan ikut mengantar tamunya Mbak Shinta ke terminal Bungrasih. Lucu memang. Kami bertamu, kemudian kami ikut mengantar tamu yang lain (hihi).

They are strangers, but very kind.