Kamis, 27 Maret 2014

Buku yang Terbuka




Teori manusia memang bersifat nisbi, tidak selalu benar. Pada tayangan sebelumnya, saya mengatakan bahwa flegmatis adalah faker yang handal. Ternyata setelah saya mengamati diri saya sendiri, ada kalanya orang lain masih bisa membaca apa yang berusaha saya sembunyikan dari mereka. Ketika sedang dirundung murung, tiba-tiba ada yang mengatakan,”senyum mbak, semangat mbak.” Ternyata buku saya tidak selalu tertutup. Ia terbuka dengan sendirinya, sehingga orang-orang mudah membaca.

Beberapa hari ini ada yang terbaca dari wajah saya. Isinya tidak begitu bagus. Saya pun malas melihatnya di depan cermin. Biasanya saya bersemangat jika berhadapan dengan cermin ketika hendak merapikan kerudung. Tapi beberapa hari ini saya membaca do’a bercermin tanpa kehadiran hati. Astaghfirullah.

Saya tak mengelak bahwa saya sebenarnya adalah seorang yang mudah menangis, cengeng bahkan. Terlebih jika dengan tatapan dan mimik menghakimi sedekat itu. Seperti sudah terkondisi, sulit mencegahnya. Saya mengerti bahwa sebagian besar orang tidak bisa menoleransi ini. Karena dunia telah dirancang sedemikian rupa bagi orang-orang yang kuat dan orang-orang yang bertahan.

Meski sudah menggenang tinggi di tepian dinding dan banyak yang menyaksikan. Saya bersyukur, setidaknya tidak terjatuh di situ.

“Tetap tersenyumlah, biar semakin mudah. Karena kesedihan pun ternyata hanya sementara.” Teruslah Bermimpi by Ipang