Aku ingin menyalahkanmu karena detik-detik yang kulewatkan di dalam kamar yang dulu berdinding putih, lalu pink, kemudian kini kuning.
Aku ingin menyalahkanmu karena ribuan sore yang kulewatkan untukmu.Aku ingin menyalahkanmu karena tempat-tempat yang tak sempat kusinggahi demi dirimu.Aku ingin menyalahkanmu karena wajah-wajah yang tak sempat kutatap lekat, sampai hanya dirimu yang memenuhi mataku. Engkau tahu, aku lebih takut kalau-kalau ada yang tak seperti biasanya dari wajahmu. Tak seperti biasanya adalah lebih dari biasanya, aku lebih takut lagi.Aku ingin menyalahkanmu karena keangkuhanmu, membuatku tidak bisa berkata apa-apa.Aku ingin menyalahkanmu, dan menangis di depan cermin. Teramat sering, sampai-sampai cermin mengatakan sesuatu padaku ketika aku berhenti menangis. “Lain kali menangislah di depanku lagi, kau terlihat cantik setelah menangis. Tapi jangan terlalu lama, aku bisa memperlihatkan yang sebaliknya.”Ini salahmu. Tapi terimakasih,Atas kamar kuning yang menghangatkanku dari dinginnya tatapanmu.Terimakasih, karena akan ada banyak malam berikutnya yang berharga. Denganmu, atau tidak denganmu.Terimakasih, karena pasir di pantai terindah, kicau merdu burung lembah, daun yang menyerah pada angin musim gugur, dan bunga-bunga merah jambu kini menyambutku.Ini salahmu. Aku telah mengampunimu, dan kau harus mengampuniku.
Menyalahkannya adalah hal yang paling benar dan kuyakini waktu itu. Seseorang, yang dulu menggebu mengajakku bersamanya, dan kini entah bagaimana. Tuhan menitipkanku padanya, tentu saja termasuk bagian dari rencana-Nya. Aku menerimanya, atau melakukan penolakan dengan menangis sepanjang hari - seperti yang kulakukan pertama kali datang - tetap saja, sesuai rencana-Nya, aku harus ikut dengannya. Dia adalah seorang yang paling mampu membuatku menangis setelah Ibu. Aku sangat tidak menyukai kemampuannya itu, sebisa mungkin menghindarinya karena aku belum punya senjata yang cukup ampuh untuk menangkalnya. Dia berhasil membuatku selayak orang yang paling nestapa sedunia selama beberapa tahun. Meskipun ada kemungkinan, dia (sebenarnya) tak bermaksud begitu. Sama sekali.
Aku menyalahkannya atas apapun. Terlebih karena membuatku menyalahkan diriku sendiri, pada akhirnya. Ia kuat dan tangguh dalam hal mengendalikan lingkungan dan hal lainnya, kecuali untuk di rumah sendirian, dia akan memaksa orang lain menemaninya. Itulah kiranya, mungkin Allah ingin aku belajar darinya tentang kuat dan tangguh. Meskipun ini bukanlah cara yang kusukai.
Haqqiya, kamar 5. Merindukan kamar kuning barang sejenak.
![]() |
| tumblr.com |
Haqqiya, kamar 5. Merindukan kamar kuning barang sejenak.
