Kamis, 27 Maret 2014

Buku yang Terbuka




Teori manusia memang bersifat nisbi, tidak selalu benar. Pada tayangan sebelumnya, saya mengatakan bahwa flegmatis adalah faker yang handal. Ternyata setelah saya mengamati diri saya sendiri, ada kalanya orang lain masih bisa membaca apa yang berusaha saya sembunyikan dari mereka. Ketika sedang dirundung murung, tiba-tiba ada yang mengatakan,”senyum mbak, semangat mbak.” Ternyata buku saya tidak selalu tertutup. Ia terbuka dengan sendirinya, sehingga orang-orang mudah membaca.

Beberapa hari ini ada yang terbaca dari wajah saya. Isinya tidak begitu bagus. Saya pun malas melihatnya di depan cermin. Biasanya saya bersemangat jika berhadapan dengan cermin ketika hendak merapikan kerudung. Tapi beberapa hari ini saya membaca do’a bercermin tanpa kehadiran hati. Astaghfirullah.

Saya tak mengelak bahwa saya sebenarnya adalah seorang yang mudah menangis, cengeng bahkan. Terlebih jika dengan tatapan dan mimik menghakimi sedekat itu. Seperti sudah terkondisi, sulit mencegahnya. Saya mengerti bahwa sebagian besar orang tidak bisa menoleransi ini. Karena dunia telah dirancang sedemikian rupa bagi orang-orang yang kuat dan orang-orang yang bertahan.

Meski sudah menggenang tinggi di tepian dinding dan banyak yang menyaksikan. Saya bersyukur, setidaknya tidak terjatuh di situ.

“Tetap tersenyumlah, biar semakin mudah. Karena kesedihan pun ternyata hanya sementara.” Teruslah Bermimpi by Ipang

Jumat, 21 Maret 2014

Aku Ada


Melukiskanmu saat senja
Memanggil namamu ke ujung dunia
Tiada yang lebih pilu
Tiada yang menjawabku
Selain hatiku dan ombak berderu

Di pantai ini kau selalu sendiri
Tak ada jejakku di sisimu
Namun saat ku tiba
Suaraku memanggilmu
Akulah lautan kemana kau selalu pulang

Jingga di bahuku, malam di depanku
Dan bulan siaga sinari langkahku
Ku terus berjalan, ku terus melangkah
Ku ingin ku tahu engkau ada

Memandangimu saat senja
Berjalan di batas dua dunia
Tiada yang lebih indah
Tiada yang lebih rindu
Selain hatiku andai engkau tahu

Di pantai itu kau tampak sendiri
Tak ada jejakku di sisimu
Namun saat kau rasa
Pasir yang kau pijak pergi
Akulah lautan memeluk pantaimu erat

Jingga di bahuku, malam di depanku
Dan bulan siaga sinari langkahku
Ku terus berjalan, ku terus melangkah
Ku tahu kau tahu aku ada

Jingga di bahuku, malam di depanku
Dan bulan siaga sinari langkahmu
Ku terus berjalan, ku terus melangkah
Ku tahu kau tahu aku ada

Ku terus berjalan, (teruslah berjalan)
Ku terus melangkah, (melangah)
Ku tahu kau tahu aku ada


Sung by Dewi lestari ft. Arina 'Mocca'

 

Surat dari Dandelion Kecil

Akhirnya aku memiliki momen untuk mengatakan ini padamu. Banyak orang yang menarikku untuk membuat sebuah pertemanan, namun di antaranya tak banyak yang mampu membuatku benar-benar nyaman. Dan kau, ada di bagian yang tak banyak itu. Tidak banyak pula dari bagian tak banyak itu yang suka membicarakan hal-hal sama yang ingin kubicarakan. Aku suka, kita selalu memiliki acara untuk membicarakan hal sama yang kita suka. Karena itulah, aku terkadang menyimpan ceritaku dari orang lain, lalu memilih berbagi denganmu.
Atas segala susah payah kita, kau adalah orang yang paling sering kurepotkan. Kekanakanku satu itu sulit diubah. Karena itu, aku ingin berterimakasih. Terima kasih aja? Sambil mendo’akan semoga Allah yang membalasnya.

Kau selalu baik. Ya, selalu. Selalu sebelum kau pernah membicarakan sesuatu di belakangku. *seharusnya tidak diungkit*, tapi saat itu aku sebal sekali padamu. Tapi syudahlah, kau pasti tak akan mengulangi lagi. Kau baik, kau suka diam. Tapi tolong, jangan diam ketika aku salah.
Ini bukan hadiah ulang tahun. Biar kau memiliki gambarku, yang akan susah payah kau dapat jika aku terkenal nanti. Aku baik ya? Oh ya maaf dua kali aku salah tanggal lahirmu xoxoxo. Bukan salah sih, hanya keliru memperkirakan.
              
Terimakasih ukh, untuk menjadi sahabat baikku. I love you ^^
               
Regardly,
Futri

Terimakasih untuk surat cinta yang datang bersama foto yang aneh itu, yang katamu kamu kelihatan cantik itu, dan kataku poseku kelihatan aneh.Tapi apa boleh buat, kamu memang selalu benar dalam hal seperti ini, lalu aku akan (pura-pura) membenarkan. Karena sepertinya perang tidak boleh selesai sebelum kamulah yang menang. Kamu tahu kan, aku tidak begitu suka perang.
Ada bagian melankolis dalam diriku yang tak sebesar punyamu. Ia terbit tenggelam tak pasti jedanya. Bahkan terlalu dalam ia tenggelam dalam diriku, aku kesulitan menemukannya. Sejauh ini, hanya ucapan "terimakasih untuk surat cintanya" yang bisa kulayangkan. Gudluck ukh!

Sabtu, 15 Maret 2014

Radar


Aku tidak punya radar seperti Kugy. Aku tidak juga menemukan sungai mengalir yang mampu membawa perahu kertasku padamu. Jika pun ada, aku tak akan seberani itu. Aku hanya akan di sini, membuat do’a-do’a indah untukmu. Aku sibuk memohon kepada Tuhan agar Ia memaafkanku. Jadi, kuharap kau yang punya radar di sana. Kalau perlu, kau boleh pinjam pada Kugy. Atau, aku akan memohon pada Tuhan (lagi) untuk menciptakan satu untukmu. Semoga selalu menjadi manusia yang lebih baik. #smile

Volume Air Mata

Beberapa larut malam yang kulewati setiap pekan, kadang ada bening menggenang dengan volume yang lebih besar dari cukup untuk memenuhi kantung mataku yang kehitaman. Ketika ia jatuh, bagiku cukup untuk mewakilkan beribu rasa yang tak sampai dengan cara lain. Aku terlalu pemalu, maka sedapat mungkin untuk tidak membuat gaduh di larut malam yang mulai senyap. Aku akan diam tak bergerak beberapa saat, agar mata air itu menemukan jejaknya sendiri di pipiku. Aku menangis diam-diam. Ya, menangis. Tanpa harus bersuara, tanpa sesenggukan keras-keras. Menangis, bagiku, adalah sifat manusiawi yang paling indah yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Ketika kau ingin menyatakan perasaanmu, apa saja, tapi lisan serasa tak sanggup mengungkapkannya, maka menangis saja. Sedih, bahagia, bingung, marah, syukur. Cukup dengan beberapa tetes saja, atau terserah dirimu. Bergantung seberapa besar kesedihan, kebahagiaan, kebingungan, kemarahan dan rasa syukur yang kau rasa. Hanya kau yang bisa menakar volume air matamu untuk menggantikan lisan yang tertahan dan rasa yang mengendap dalam.