Teori manusia memang bersifat
nisbi, tidak selalu benar. Pada tayangan sebelumnya, saya mengatakan bahwa
flegmatis adalah faker yang handal. Ternyata setelah saya mengamati diri saya
sendiri, ada kalanya orang lain masih bisa membaca apa yang berusaha saya
sembunyikan dari mereka. Ketika sedang dirundung murung, tiba-tiba ada yang
mengatakan,”senyum mbak, semangat mbak.” Ternyata buku saya tidak selalu
tertutup. Ia terbuka dengan sendirinya, sehingga orang-orang mudah membaca.
Beberapa hari ini ada yang
terbaca dari wajah saya. Isinya tidak begitu bagus. Saya pun malas melihatnya
di depan cermin. Biasanya saya bersemangat jika berhadapan dengan cermin ketika
hendak merapikan kerudung. Tapi beberapa hari ini saya membaca do’a bercermin tanpa
kehadiran hati. Astaghfirullah.
Saya tak mengelak bahwa saya
sebenarnya adalah seorang yang mudah menangis, cengeng bahkan. Terlebih jika
dengan tatapan dan mimik menghakimi sedekat itu. Seperti sudah terkondisi,
sulit mencegahnya. Saya mengerti bahwa sebagian besar orang tidak bisa
menoleransi ini. Karena dunia telah dirancang sedemikian rupa bagi orang-orang
yang kuat dan orang-orang yang bertahan.
Meski sudah menggenang tinggi di tepian dinding dan banyak yang menyaksikan. Saya bersyukur, setidaknya tidak terjatuh di situ.
“Tetap tersenyumlah, biar semakin mudah. Karena kesedihan pun ternyata hanya sementara.” Teruslah Bermimpi by Ipang

