Sabtu, 29 Desember 2012

Menjelang Pagi



Tak ada suara manusia yang terjangkau pendengaranmu ketika larut menggelayut di bawah remang bulan ke limabelas. Tiga jam menjelang pagi, biasanya kau mulai bermonolog. Ritual insidental itu memang kurang hikmat. Sekelebat bayangan tentang pekerjaan sering menyela pikiranmu dan mengambil jeda yang tak teratur. Kau makin gerah, karena bayangan-bayangan itu seperti hendak mengundang gelisah.

Kau paling tahu, gelisah hanya menghalangi tangan-tanganmu yang berusaha mencipta cerita. Tentu kau juga tahu, kau butuh tenang untuk menjinakkan imajimu yang kerap cemas mencari celah tuk berkelana. Bersabarlah dengan do’a-do’a indah agar gelisah enyah meninggalkanmu perlahan. Ketika itu terjadi, menarik sekali seandainya kau dapat melihat sendiri senyum-senyum misterius dari siluet bibirmu.

Bulan ke limabelas masih benderang. Kau pun begitu, megap-megap agar tak meredup menjelang pagi. Kau takut tak ada kisah yang bisa kau ceritakan pada malam. Takut tak ada yang bisa kau kenang bersama merahnya senja. Maka kau terus menggores pena beningmu di atas kertas khayal. Dan aku merasakannya, kau bisa sedikit lebih lega. Saat itu saja.

Selasa, 11 Desember 2012

2# Monolog



Tawamu terdengar hambar ketika kaudengarkan sendiri. Merayakan kemenangan waktu atas dirimu yang tersungkur lemas di sisi lapangan. Ia, sang pemenang, bahkan tak mempedulikan kemenangannya. Ia tak kan berhenti barang sejenak tuk merayakan atau sekedar menyunggingkan senyum angkuh padamu. Dia adalah lawan paling kejam yang pernah ada. Sedetik pun tak kan pernah ia sempatkan tuk memperhatikanmu. Jangan harap dan percayalah, benar-benar tak ada harapan untuk itu. Berdiam diri di situ hanya akan membuatmu seperti pengecut. Meskipun lawanmu tak pernah mengucapkannya begitu padamu, tapi itu lah yang akan kau rasakan. Seperti sekarang.

“Aku tahu apa yang sedang kau rintihkan di balik mimik datar itu. Atau polah konyolmu yang kekanak-kanakan, kau tak dapat menyembunyikan napas beratmu dengan itu. Terkadang, kentara sekali kau berpayah-payah menekuk-nekuk cemas yang makin panas. Hey, aku bisa melihatmu. Berantakan, dan bisa kurasakan rusukmu yang membentuk di epidermismu. Kau .... terlihat kesepian.
Aku merasakannya. Rindu yang telah kau simpan baik-baik dalam kotak berlapis-lapis itu, sesekali menggaung berisik, mengusikmu. Peredam yang kau lekatkan rapi di setiap sisi itu seolah mengelupas perlahan. Aku melihatmu, kau sibuk menambal bagian yang menipis dengan gigih. Tanpa kau sadar, airmatamu membasahinya.”


Berdirilah.. kau bukan seorang yang lemah. Kau cukup tangguh untuk memikulnya seorang diri. Dan itulah yang engkau buktikan hingga kini. Kau cukup tangguh. Menata kotak-kotak itu hanya dengan kedua tanganmu yang mungil. Kau cukup tangguh. Bertahan dalam dinginnya senyap di sepanjang perjalanan. Kau cukup tangguh untuk itu.



Selasa, 04 Desember 2012

Loading Lama


Aku tak bermaksud menjelma sebagai makhluk lain atau sedang berkamuflase. Aku pastikan, aku adalah Host satu-satunya dari kepribadianku. Aku tak punya seorang alter ataupun alter-alter lain. Depersonal disorder? Aku rasa tidak. Tidak, terimakasih.

Aku. Secara naluriah, apabila tenggelam dalam atmosfer yang dingin, maka aku pun ikut membeku, bahkan lebih beku. Apabila terlena dalam atmosfer yang hangat, maka aku kan larut mencair. Menjadi lebih hangat, sehangat api unggun di subtropis Eropa. Tetapi bukan ini yang kumaksud. Layaknya jenis zat lainnya, proses penyesuaian dengan medan memang perlu dan wajar.

Yang tidak wajar adalah ketika lama waktu yang kugunakan untuk berpikir berbeda dengan orang lain. Aku butuh waktu sedikit lebih lama. Alias loading lama. Tidak tahu kapan ini bermula. Tiba-tiba karakterku terbentuk seperti ini. Hmmm ... (tuh kan) apa mungkin karena aku terlalu sering tidak fokus ya? Pikiranku suka berkelana ke rimba belukar. Tanpa instruksi, ia seperti menelisik sendiri di simpang-simpang jalan kecil. Ataukah ... karena dulu terlalu sering nonton drama korea yang tokohnya memang sedikit tulalit, konyol plus tidak pernah hati-hati (baca: ceroboh)? Atau akibat membaca komik-komiknya Diah yang menggelitik yang tak jarang membuat perutku mual? Atau ... karena cetak kode DNA yang Ibuk atau Bapak wariskan padaku? Ibuk atau Bapak? Entahlah.

Sejelas itukah ekspresiku saat aku mencoba berpikir, mengolah informasi yang orang lain sampaikan, kemudian berkonsentrasi memilih respon yang tepat. Kadang aku gagal membalas stimulus lingkungan dengan respon yang tepat. Kerap kali aku terdiam sekian detik untuk memberikan umpan balik. Orang yang kesabarannya hanya seluas lapangan sepak bola, mungkin sudah tak tahan berhadapan dengan orang macam diriku. Hehe. Afwan.

Seiring usia beranjak naik ke nominal yang lebih tinggi, kurasa self-acceptanceku bagus. Baiklah, aku ikhlas menerima diri yang tak akan sempurna ini. Aku merasa nyaman dengan ini. Tetapi apakah orang lain akan nyaman dengan ke-lolaan-ku? Itulah sentra kecemasanku.

Sebaik-baik seorang muslim adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Bukan yang merepotkan orang lain. Nah? Aku tahu derita dan kerepotan seseorang saat menghadapi tipe lemot sepertiku. Pertama, harus mengekspansi kesabaran seluas lapangan sepak bola menjadi seluas samudera. Orang lemot kadang butuh penjelasan lebih dari satu kali. Satu kali, dia bilang, “Ha?”. Dua kali, “Apa?”. Tiga kali, “Bisa diulangi lagi nggak?”. Jadi untuk soal kesabaran, harus selalu ready stock. Kedua, repotnya jika sehari-hari harus berinteraksi dengan tipe lemot dalam urusan ... apa saja boleh. Siap-siap adaptasi intens dengan personal yang bersangkutan deh. Hhe.

Sungguh. Bukan inginku aku terjerumus ke dalam tipe orang yang seperti itu. Itu bukan kesengajaan. Mungkin karena bentukan dari lingkungan sejak kecil. Mungkin lho yaa. Waallahu ‘alam.

Untuk Rabbku, Allah SWT yang Maha Penyabar. Alhamdulillah, terimakasih atas rahman dari rahim-Mu yang tak pernah lelah dan jemu mengurus hamba yang memiliki gangguan kecepatan menangkap stimulus dan respon ini. Untuk Rasulullah SAW, yang mana sunnah-nya selalu membuatku ringan dan gembira. Untuk keluargaku tercinta, yang senantiasa mencurahkan kasih sayangnya bagaimanapun keadaanku. Untuk sahabat-sahabat setia, yang rela meng-improve kesabarannya demi seorang yang low connection ini. Maafkan segala kerepotan yang kalian alami atas kelolaan-ku.
Keep ber-muhasabah diri ^_^