Aku
tak bermaksud menjelma sebagai makhluk lain atau sedang berkamuflase. Aku
pastikan, aku adalah Host
satu-satunya dari kepribadianku. Aku tak punya seorang alter ataupun alter-alter
lain. Depersonal disorder? Aku rasa
tidak. Tidak, terimakasih.
Aku.
Secara naluriah, apabila tenggelam dalam atmosfer yang dingin, maka aku pun
ikut membeku, bahkan lebih beku. Apabila terlena dalam atmosfer yang hangat,
maka aku kan larut mencair. Menjadi lebih hangat, sehangat api unggun di
subtropis Eropa. Tetapi bukan ini yang kumaksud. Layaknya jenis zat lainnya,
proses penyesuaian dengan medan memang perlu dan wajar.
Yang
tidak wajar adalah ketika lama waktu yang kugunakan untuk berpikir berbeda
dengan orang lain. Aku butuh waktu sedikit lebih lama. Alias loading lama. Tidak
tahu kapan ini bermula. Tiba-tiba karakterku terbentuk seperti ini. Hmmm ...
(tuh kan) apa mungkin karena aku terlalu sering tidak fokus ya? Pikiranku suka
berkelana ke rimba belukar. Tanpa instruksi, ia seperti menelisik sendiri di
simpang-simpang jalan kecil. Ataukah ... karena dulu terlalu sering nonton
drama korea yang tokohnya memang sedikit tulalit, konyol plus tidak pernah
hati-hati (baca: ceroboh)? Atau akibat membaca komik-komiknya Diah yang
menggelitik yang tak jarang membuat perutku mual? Atau ... karena cetak kode DNA
yang Ibuk atau Bapak wariskan padaku? Ibuk atau Bapak? Entahlah.
Sejelas
itukah ekspresiku saat aku mencoba berpikir, mengolah informasi yang orang lain
sampaikan, kemudian berkonsentrasi memilih respon yang tepat. Kadang aku gagal
membalas stimulus lingkungan dengan respon yang tepat. Kerap kali aku terdiam
sekian detik untuk memberikan umpan balik. Orang yang kesabarannya hanya seluas
lapangan sepak bola, mungkin sudah tak tahan berhadapan dengan orang macam
diriku. Hehe. Afwan.
Seiring
usia beranjak naik ke nominal yang lebih tinggi, kurasa self-acceptanceku bagus. Baiklah, aku ikhlas menerima diri yang tak
akan sempurna ini. Aku merasa nyaman dengan ini. Tetapi apakah orang lain akan
nyaman dengan ke-lolaan-ku? Itulah sentra kecemasanku.
Sebaik-baik
seorang muslim adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Bukan yang merepotkan
orang lain. Nah? Aku tahu derita dan kerepotan seseorang saat menghadapi tipe
lemot sepertiku. Pertama, harus mengekspansi kesabaran seluas lapangan sepak
bola menjadi seluas samudera. Orang lemot kadang butuh penjelasan lebih dari
satu kali. Satu kali, dia bilang, “Ha?”. Dua kali, “Apa?”. Tiga kali, “Bisa
diulangi lagi nggak?”. Jadi untuk soal kesabaran, harus selalu ready stock. Kedua, repotnya jika
sehari-hari harus berinteraksi dengan tipe lemot dalam urusan ... apa saja
boleh. Siap-siap adaptasi intens dengan personal yang bersangkutan deh. Hhe.
Sungguh.
Bukan inginku aku terjerumus ke dalam tipe orang yang seperti itu. Itu bukan
kesengajaan. Mungkin karena bentukan dari lingkungan sejak kecil. Mungkin lho
yaa. Waallahu ‘alam.
Untuk
Rabbku, Allah SWT yang Maha Penyabar. Alhamdulillah, terimakasih atas rahman
dari rahim-Mu yang tak pernah lelah dan jemu mengurus hamba yang memiliki
gangguan kecepatan menangkap stimulus dan respon ini. Untuk Rasulullah SAW,
yang mana sunnah-nya selalu membuatku ringan dan gembira. Untuk keluargaku
tercinta, yang senantiasa mencurahkan kasih sayangnya bagaimanapun keadaanku.
Untuk sahabat-sahabat setia, yang rela meng-improve
kesabarannya demi seorang yang low
connection ini. Maafkan segala kerepotan yang kalian alami atas
kelolaan-ku.
Keep
ber-muhasabah diri ^_^