Tak
ada suara manusia yang terjangkau pendengaranmu ketika larut menggelayut di
bawah remang bulan ke limabelas. Tiga jam menjelang pagi, biasanya kau mulai
bermonolog. Ritual insidental itu memang kurang hikmat. Sekelebat bayangan
tentang pekerjaan sering menyela pikiranmu dan mengambil jeda yang tak teratur.
Kau makin gerah, karena bayangan-bayangan itu seperti hendak mengundang
gelisah.
Kau
paling tahu, gelisah hanya menghalangi tangan-tanganmu yang berusaha mencipta
cerita. Tentu kau juga tahu, kau butuh tenang untuk menjinakkan imajimu yang
kerap cemas mencari celah tuk berkelana. Bersabarlah dengan do’a-do’a indah
agar gelisah enyah meninggalkanmu perlahan. Ketika itu terjadi, menarik sekali
seandainya kau dapat melihat sendiri senyum-senyum misterius dari siluet
bibirmu.
Bulan
ke limabelas masih benderang. Kau pun begitu, megap-megap agar tak meredup
menjelang pagi. Kau takut tak ada kisah yang bisa kau ceritakan pada malam.
Takut tak ada yang bisa kau kenang bersama merahnya senja. Maka kau terus
menggores pena beningmu di atas kertas khayal. Dan aku merasakannya, kau bisa
sedikit lebih lega. Saat itu saja.