Sabtu, 29 Desember 2012

Menjelang Pagi



Tak ada suara manusia yang terjangkau pendengaranmu ketika larut menggelayut di bawah remang bulan ke limabelas. Tiga jam menjelang pagi, biasanya kau mulai bermonolog. Ritual insidental itu memang kurang hikmat. Sekelebat bayangan tentang pekerjaan sering menyela pikiranmu dan mengambil jeda yang tak teratur. Kau makin gerah, karena bayangan-bayangan itu seperti hendak mengundang gelisah.

Kau paling tahu, gelisah hanya menghalangi tangan-tanganmu yang berusaha mencipta cerita. Tentu kau juga tahu, kau butuh tenang untuk menjinakkan imajimu yang kerap cemas mencari celah tuk berkelana. Bersabarlah dengan do’a-do’a indah agar gelisah enyah meninggalkanmu perlahan. Ketika itu terjadi, menarik sekali seandainya kau dapat melihat sendiri senyum-senyum misterius dari siluet bibirmu.

Bulan ke limabelas masih benderang. Kau pun begitu, megap-megap agar tak meredup menjelang pagi. Kau takut tak ada kisah yang bisa kau ceritakan pada malam. Takut tak ada yang bisa kau kenang bersama merahnya senja. Maka kau terus menggores pena beningmu di atas kertas khayal. Dan aku merasakannya, kau bisa sedikit lebih lega. Saat itu saja.