Membaca judul di atas, rasanya
ingin menertawakan diri sendiri. Dulu, ketika mendapat mata pelajaran BK di
SMA, aku merasa sangat senang. Senang, karena selalu membahas tentang karakter,
kepribadian, dan semua tentang diri sendiri. Senang, bisa mengenal diri
sendiri.
Tepatnya ketika aku membaca
tentang tipe kepribadian Hipocrates-Galenus yang menyatakan bahwa manusia
terbagi menjadi 4 tipe kepribadian. Koleris, Sanguinis, Flegmatis, dan
Melankolis. Kubaca satu per satu ciri-ciri dari tiap tipe. Spontan, aku
mengidentifikasikan diriku ke dalam tipe yang ketiga. Flegmatis. Kemudian,
kesimpulan itulah yang terus menancap di dinding memoriku. Aku, seorang
flegmatis.
Awalnya bahagia, karena flegmatis
sangat baik hati, selalu menyenangkan orang lain dan begitu pengertian. Pas sekali
untuk menggambarkan manusia berakhlak malaikat, pikirku. (Apa? Malaikat? Kau?
Hahaha #tertawa kejam). Sayang sekali, jika flegmatis serupa malaikat. Karena
ternyata, dia tak memiliki sayap. Flegmatis terlahir sebagai manusia, yang
secara ajaib menjelma menjadi malaikat. Apa daya jika malaikat tak punya sayap.
Ia tak bisa menggapai langit.
Nah, begitulah flegmatis. Malaikat
tanpa sayap. Bukan terjatuh dan patah, ia hanya tak bisa mengudara di langit
layaknya malaikat seutuhnya. Hanya bisa menengadah dan menatap sayap-sayap lain
di udara.
Maka, ia pun biasa-biasa saja. Tak
bersayap. Tak istimewa.
Spontanitas itu membawaku pada
satu fakta. Aku memang sering menuliskan kata “ordinary”, yang artinya biasa-biasa saja. Bahkan pernah kujadikan
motto diri. “Just ordinary person”. Well, tidak ada tipe kepribadian yang
disebut malaikat. Tiap pribadi memiliki kelebihan dan kekurangannya
masing-masing. Kuanggap, ini memang kekuranganku. Tapi bukan berarti aku
menyerahkan diriku begitu saja pada teori Hipocrates-Galenus yang hanya buatan
manusia. Flegmatis, aku menyukainya. Tapi itu hanya satu teori.
Ordinary. Itu hanya kata sifat. Aku
bisa menggantinya dengan kata sifat yang lain.
Extraordinary. #Smile