Kamis, 15 November 2012

1# Monolog


Tidak tahu lagi bagaimana menyingkirkan ketidaknyamanan ini. Tidak tahu bagaimana harus meluapkannya. Aku terlanjur tak bisa berkata apa-apa. Dalam keadaan normal saja, sulit bagiku untuk menata kata. Bagaimana jika dalam keadaan yang kadang sulit kupahami sendiri.

Bernapas terasa sulit. Mendadak sesak sekali di dada. Sepatah kata pun tak dapat kuucap, apalagi tetes air mata yang ingin sekali kutumpahkan. Aku tidak bisa.

Aku tak terlalu berharap engkau kan mengerti. Kuyakinkan aku tak perlu intervensi. Aku hanya ingin berduka sendiri. Bermonolog sendiri. Jika kurasa sepi sudah mencekik hati, kuubah monolog-ku dengan berdialog dengan-Nya. Demikianlah, bahwa bahagiaku bukan tentangmu. Bukan tentang siapa-siapa.
(Benar-benar speechless. Ya Rabb, segala puji bagi-Mu atas segala cinta-Mu untukku. I love You)

Sabtu, 10 November 2012

Flegmatis



Membaca judul di atas, rasanya ingin menertawakan diri sendiri. Dulu, ketika mendapat mata pelajaran BK di SMA, aku merasa sangat senang. Senang, karena selalu membahas tentang karakter, kepribadian, dan semua tentang diri sendiri. Senang, bisa mengenal diri sendiri.

Tepatnya ketika aku membaca tentang tipe kepribadian Hipocrates-Galenus yang menyatakan bahwa manusia terbagi menjadi 4 tipe kepribadian. Koleris, Sanguinis, Flegmatis, dan Melankolis. Kubaca satu per satu ciri-ciri dari tiap tipe. Spontan, aku mengidentifikasikan diriku ke dalam tipe yang ketiga. Flegmatis. Kemudian, kesimpulan itulah yang terus menancap di dinding memoriku. Aku, seorang flegmatis.

Awalnya bahagia, karena flegmatis sangat baik hati, selalu menyenangkan orang lain dan begitu pengertian. Pas sekali untuk menggambarkan manusia berakhlak malaikat, pikirku. (Apa? Malaikat? Kau? Hahaha #tertawa kejam). Sayang sekali, jika flegmatis serupa malaikat. Karena ternyata, dia tak memiliki sayap. Flegmatis terlahir sebagai manusia, yang secara ajaib menjelma menjadi malaikat. Apa daya jika malaikat tak punya sayap. Ia tak bisa menggapai langit.

Nah, begitulah flegmatis. Malaikat tanpa sayap. Bukan terjatuh dan patah, ia hanya tak bisa mengudara di langit layaknya malaikat seutuhnya. Hanya bisa menengadah dan menatap sayap-sayap lain di udara.
Maka, ia pun biasa-biasa saja. Tak bersayap. Tak istimewa.

Spontanitas itu membawaku pada satu fakta. Aku memang sering menuliskan kata “ordinary”, yang artinya biasa-biasa saja. Bahkan pernah kujadikan motto diri. “Just ordinary person”. Well, tidak ada tipe kepribadian yang disebut malaikat. Tiap pribadi memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kuanggap, ini memang kekuranganku. Tapi bukan berarti aku menyerahkan diriku begitu saja pada teori Hipocrates-Galenus yang hanya buatan manusia. Flegmatis, aku menyukainya. Tapi itu hanya satu teori.

Ordinary. Itu hanya kata sifat. Aku bisa menggantinya dengan kata sifat yang lain.

Extraordinary. #Smile