Minggu, 01 Februari 2015

About My Hand


Salah satu adik letting sewaktu masih di kontrakan Al-Banna dulu pernah bilang;
"Mbak Bekti aku suka deh sama tangannya anti. Tangannya aja.. Hehehe." -__-'
"Eee.. makasiih...". Aslinya dia tuh kehilangan banget ketika aku alhamdulillah lulus, dan meninggalkan dunia kampus, begitu juga kontrakan tercinta beserta penghuninya yang sholihah-sholihah. 


Semoga gambar ini sampai padamu, dan mengobati rindumu ya dek. #lebay #GR

Unwanted Feeling

Have you ever felt a feeling that you want it not to happen? It's kind a burning flame that makes you feel hard breathing. I really don't want this happened. I didn't mean it. It feels like I'm the worst person in the world. And all I can do is.. praying.

Sabtu, 31 Januari 2015

Berkaca-kaca

"Waduh bu'... tadi kan saya sudah bilang untuk memasukkan biaya payroll per karyawannya di kuitansi kami."
"Oh iya pak. Maaf saya lupa. Bagaimana dong pak?"

Deg. Tiba-tiba saja aku terdiam di depan pegawai bank syariah tertentu itu. Rasanya ada yang mau keluar dari mataku. Aku tahu aku sudah tertangkap basah. Pegawai bank itu jelas melihat sesuatu yang menggenang di kantung mataku. Sontak saja aku menunduk, mencari-cari ponselku, menekan-nekan layar ponsel, mencari-cari nama dua orang di kontakku. Pertama, manajerku. Kedua, teman kerja yang kenal dan satu almamater dengan Kepala Cabang bank tersebut.
"Berdo'a saja agar tidak dipecat atau kehilangan nasabah." Gerutuku dalam hati. Mendramatisir perasaan.

Tut..tut..tut.
Ternyata dua-duanya tidak bisa dihubungi. Sibuk.
Meski begitu, aku tetap saja menekan-nekan layar ponsel. Sekuat tenaga menahan sesuatu yang ingin buncah. Karena dua jam sebelumnya, aku duduk di kursi yang kurang lebih sama.

"Kemarin kami sudah menyampaikan ke orang yang sebelumnya ke sini." Itu manajer gue. "Bahwa berkas yang diperlukan adalah ini...ini...dan ini..bu'."
"Oh.. begitu ya pak. Saya belum tahu."
"Ibu baru ya di LMI?" Ih, tahu aja.
"Iya pak. Kalau mau mencairkan cek dari bank M di sini nggak bisa ya ?"
"Yaa bisa pakai kliring. Tapi prosesnya lama, bisa 2 sampai 3 hari." Aku menelan ludah.
"Jadi gimana?"
"Bisa dicairkan ke bank M dulu.. kemudian setor tunai ke sini bisa bu'."

Ini masalah kesejahteraan umat. Harus segera diselesaikan dan tidak bisa menunggu terlalu lama. Dampaknya bisa sistemik #halah. Lalu, aku berangkat ke bank M. Jarak bank syariah ke bank M lumayan menguras energi dan menyerap polusi Surabaya (meskipun sudah pakai masker). Apalagi jumlah dana yang dicairkan nggak sedikit. Sempat syok ketika si teller menyodorkan amplop coklat tebal banget ke aku. Pikiranku saat itu macam-macam. Kalau ada yang merampok bagaimana? Uangnya hilang, dan aku harus menggantinya. Butuh waktu berapa lama untuk melunasinya? Itu setara dengan gajiku selama 3 tahun, men.
Dari bank M aku menuju bank syariah tertentu untuk menyetorkan uang. Kemudian kembali ke kantor untuk mengambil berkas yang tertinggal. Dan... kembali ke percakapan awal tadi.

"Duh.. gimana ya bu? Tadi kan sudah saya bilang... Maksudnya daripada bolak-balik lagi.."
Haa.. balik lagi?! T.T
"Kalau dicoret saja gimana pak, diganti dengan tambahan nominal pembayaran tadi?"
"Yaa bisa sih bu. Tapi harus orang yang tanda tangan ini yang tanda tangan lagi di sini.." Begitulah aturan akuntansi. Pfft. Masa iya aku minta atasanku ke sini hanya untuk tanda tangan. #tungtung.. memangnya orangnya mau? Enggak.. >.<
"Ee.. sebentar ya bu' saya tanyakan dulu." Aku hanya mengangguk. Sepertinya si pegawai itu mulai iba padaku, atau mungkin takut kehilangan nasabah. Tak berselang lama dia kembali.
"Baik. Begini saja bu', biaya payroll per karyawannya dibayarkan tunai saja. Nanti mengisi form dulu ya bu'. Akan dibantu sama Mbak Cici (bukan nama sebenarnya)."
"Iya." Jawabku sok tegar, masih dengan mata berkaca-kaca.

15 menit kemudian aku keluar dari bank. Menghela napas panjang-panjang. Hari itu cukup melelahkan. Juga maluuu sekali rasanya. Rasanya tidak ingin kembali ke sana... tapi bulan depan harus ke bank itu lagii. Hiks.


26012015

#LMI semoga selalu diberkahi

Senin, 26 Januari 2015

Introvert HR

Introvert HR. Tiba-tiba saja saya melabeli diri saya dengan istilah itu. Kenapa gerangan? Karena yang ada dalam bayangan saya, seorang HR (human resource) itu kudu lincah, loncat sana, loncat sini, observasi karyawan, menjalin hubungan interpersonal dengan banyak manusia dalam suatu perusahaan, yaah begitulah. Dilihat dari kualifikasinya yang biasa dicantumkan di job-advertise saja.. rasanya.. aduuh, bukan gue banget. HRD? Iiih, ngapain sih kerjaannya. Itu saya ketika menempuh kuliah S1 Psikologi di Unesa.

Fresh graduated. No experience. Lalu tiba-tiba nyemplung di dunia ke-HR-an adalah sesuatu yang membuat saya frustasi (mungkin). Di sebuah lembaga yang sedang develop, mencoba membangun identitas diri, mencoba melebarkan sayap ke kancah dunia, ... oh Rabbi, kuatkan hamba-Mu.

Oke, baiklah. Ini memang sedikit banyak melelahkan. Namun demikian, terimakasih Allah.. sudah dipertemukan dengan orang-orang yang luar biasa di sini, sudah diajarkan ilmu yang insyaAllah bermanfaat. Terimakasih.. sudah mengajariku untuk menjadi lebih kuat dengan cara-Mu.



#LMI semoga selalu diberkahi


Hey Psikologi !

Sudahlah.. aku menyerah ya Allah. Engkau memang yang paling tahu apa yang kubutuhkan. Atas jalan yang telah Engkau pilihkan, aku tak berani mendebat-Mu. Aku tak berhak... bahkan atas hidupku sendiri, Engkaulah yang menggenggam jiwaku.
It's been two months. Saya bekerja sebagai staf HR di sebuah lembaga. Well, lembaga ya.. bukan perusahaan guedhe kayak tempat teman-teman saya kerja. Tapi saya sudah dibuat pusing nggak karuan. Uring-uringan sendiri sama diri sendiri. (karena saya nggak mungkin uring-uringan di depan teman-teman kantor yang sholih & sholihah).. Astaghfirullah.

It's unbelievable. Terkadang saya suka bertanya-tanya sendiri,"kok aku bisa sampek sini ya? gimana ceritanya?" Bukannya apa.. hanya saja bidang pekerjaan saya sekarang adalah bidang yang paling saya hindari dulu ketika kuliah. "Psikologi Industri & Organisasi?" "Hohoho, nggak deh. Bukan gue banget." Sewaktu ada mata kuliah pilihan, mata kuliah yang tak pernah saya lirik adalah semua mata kuliah yang berhubungan dengan PIO. Sudah seperti alergi begitu. #lebay

By the way, Psikologi itu ranahnya luas banget lhoh.. ada bidang pendidikan bagi yang suka dengan perihal didik-mendidik, ada psikologi sosial bagi yang punya jiwa sosial & suka blusukan ke masyarakat, ada lagi psikologi perkembangan bagi yang antusias dengan anak-anak kita yang berkebutuhan khusus, ada juga psikologi klinis bagi yang berminat dengan kejiwaan, and then.. ada psikologi industri & organisasi bagi yang suka dengan dunia karir di perusahaan. Psikologi itu keren deh pokoknya. Ilmunya komplit dan hampir digunakan di seluruh aspek kehidupan. Karena pada hakikatnya, subjek dari Psikologi itu sendiri adalah manusia. Dan siapakah manusia? Mereka yang menjalankan roda kehidupan di Bumi ini. Maka ada yang mengatakan, dimana ada manusia, di situlah Psikologi berperan. Asli keren kan. Jurusan yang sempat saya ragukan dan membuat saya dirundung kegalauan ini.. ternyata bisa membuat saya jatuh cinta pada akhirnya. Saya masih ingat.. saya pernah membuat postingan seputar pilihan saya mengambil kuliah Psikologi di Menunggu Kujatuh Cinta.

Saya sempat berpikir, mungkin suatu hari nanti saya akan meninggalkan ke-Psikologi-an saya setelah selesai kuliah. Tapii, saya adalah tipikal orang yang susah move on dan maunya lurus-lurus aja, bukan risk-taker banget lah. Jadi.. saya bertekad mencari pekerjaan yang sebisa mungkin.. masih linier dengan jurusan saya. Sudah susah-susah kuliah Psikologi 4 tahun, terus kalau ilmunya nggak kepake kan.. mubadziir. Hehe.

Begitulah singkatnya.. sehingga saya berada di sini sekarang. Di sebuah tempat yang sudah Allah pilihkan.. Tempat kerja yang something banget pokoknya. Allah is the Best.


#LMI semoga selalu diberkahi