Hujan itu masih terasa basah di hatiku. Setelah sekian lama menderu deras, perlahan ia menjelma gerimis yang tak kenal bosan memerciki dinding hatiku. Akhirnya, dadaku selalu basah karenanya. Seperti rona langit menjelang hujan, ketika hujan, atau seusai hujan. Sendu. Kelabu.
Hey, gerimis. Sampai kapan kau mau seperti ini? Apa kau tahu, aku mulai lelah menegakkan payung dengan berdiri selama ini? Sampai kapan kau mau diriku menemanimu dengan payung ditegakkan begini? Atau mungkin kau, .... Kau mau menemaniku? Sampai kapan? Sampai kemarau memberi peringatan, katamu. Dengan payung ini? Gunakan payung yang sama ketika kau ingin bertemu Matahari. Kau harus mengenalnya dengan baik. Tapi jangan terlalu dekat.