I really love this part. Ketika suara alarm dari ponsel kami saling
bersahut, jengah, karena pemiliknya tak kunjung membuka mata juga. Mereka
mendengar (sebagian besar), namun menolak kenyataan bahwa hari sudah berganti
sedari tadi. Sebagian pura-pura tidak mendengar dan acuh, sehingga setiap
beberapa menit kemudian benda itu bersahut kembali. Sedang sebagian yang lain
tak tahan dengan suara pilihan mereka sendiri itu, lalu meraba-raba permukaan
kasur mencari cara untuk mematikan sumber suara. Satu dua pintu ada yang
terbuka, lalu keluarlah satu dua penghuni dari rumah berkamar 10 itu
menghampiri pintu kamar mandi. Inilah orang-orang yang mengawali sebelum adzan
subuh dikumandangkan. Dari pintu-pintu yang masih tertutup, ada yang berharap
dan menunggu suara ketukan pintu dari luar, meminta manja untuk dibangunkan. Kami
harus saling membangunkan. (Mungkin) Ada juga yang samar-samar dalam mimpi
berharap semoga pintuku terlewati. Ada yang bersorak dalam hati, karena
memiliki waktu lebih panjang untuk menengok akhir dari mimpinya. Mereka adalah
para hawa yang sedang kedatangan tamu setiap bulannya.
I really love this part. Ketika injury
time sudah berakhir, dan adzan subuh harus dikumandangkan. Kami, para hawa
penghuni rumah 10 kamar, setidaknya harus mengantri di dekat pintu-pintu kamar
mandi, kalau tidak ingin tertinggal rahmat-Nya di awal waktu dan pahala
berlipat-lipat. Suara alarm ponsel-terkadang-masih ada saja yang meraung ‘siapa
pula yang memintaku berbunyi?’. Orang-orang tak terlalu peduli. Kami hanya
ingin suara air dan menyentuh air. Tidak ingin tertinggal menjemput pahala yang
lebih baik dari dunia dan seisinya. Untuk-Nya, kami (harus) bersegera. Usai iqomah, musholla kecil kami jadi
berjejal.
I really love this part. Ketika kening kami bersama-sama mengecup
lantai, lalu gerakan-gerakan lain yang dilakukan bersama. Do’a-do’a pagi dibisikkan
lirih-lirih. Ayat-ayat-Nya dilantunkan bergiliran. Semoga Allah memudahkan
urusan kita semua. Semoga Allah menghapuskan luka-luka yang pernah berdenyut
dalam hati yang tak tampak. Semoga masing-masing saling mendo’a dalam hati yang
tak terdengar.
I really love this part. Ketika aroma masakan mulai menguar,
menggoda perut kelaparan. Meski terkadang, aromanya terlalu mencekam dan
membuat seluruh penghuni rumah terbatuk-batuk senang sampai berair mata. Suara
air mengalir masih riuh menghantam air yang menggenang di dalam bak mandi. Lalu
disusul suara para penghuni yang mengambil nomor antrian mandi. Ketika menu
pagi dihidangkan, seolah-olah mengalihkan dunia seluruh penghuni rumah,
tiba-tiba saja dapur kecil kami menjadi ramai. Orang-orang mengantri teratur
mengambil piring, mengambil sendok (sebagian ada yang memilih mengikuti sunnah
Rasulullah-pakai tangan, atau karena tidak ada pilihan lain-sendok kami
terbatas-), mengambil nasi, mengambil menu pagi dan memilih posisi duduk yang
nyaman. Lalu beralihlah keriuhan di dapur berpindah ke ruang tengah.
Orang-orang duduk rapi saling berhadapan dengan jarak dua langkah, saling
menyangga piring dengan tangannya, dan mulailah ritual pagi kami. Bagian ini
adalah yang paling aku suka. Segala puji bagi Allah yang telah mempersatukan
hati kami melalui menu pagi yang hangat.
Haqqiyya. When the dawn is
breaking and breakfast is dished out.